KORANJURI.COM – Direktorat Jenderal Perhubungan Laut melatih 180 Mualim dan Juru Motor Pelayaran Rakyat (MPR/JPR) yang beroperasi di wilayah Bali.
Pelatihan digelar selama lima hari, 3-7 Agustus 2026. Ratusan Mualim dan Juru Motor pelayaran rakyat diberikan pengetahuan kena harian untuk mengukur kecakapan mereka sebagai pelaut.
Direktur Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan Samsuddin mengatakan, setiap operator harus mengetahui kelaikan kapal yang dikemudikan.
“Kalau secara keahlian, saya yakin teman-teman sudah ahli dalam mengemudikan kapal. Tapi penambahan pengetahuan terhadap keselamatan kapal, setidaknya bisa mengurangi potensi-potensi terjadinya kecelakaan,” kata Samsuddin di Denpasar, Senin (3/8/2026).
Samsuddin menambahkan, untuk menjamin keselamatan berlayar, para Mualim ataupun Juru Motor senantiasa patuh terhadap imbauan, dari BMKG maupun KSOP.
Melalui program sertifikasi itu, kata Samsuddin, kecakapan para pelaut semakin diimbangi dengan pemahaman yang baik. Sehingga, peristiwa kecelakaan akan berkurang.
“Nah, ini yang harus diberikan bekal kepada teman-teman di pelaku atau operator kapal untuk senantiasa patuh terhadap imbauan,” jelasnya.
Samsuddin menambahkan, para peserta akan diberikan Surat Keterangan Kecakapan (SKK) yang merupakan kompetensi resmi untuk awak kapal tradisional dan nelayan. Dengan kategori SKK 30 mil dan 60 mil.
Tapi dokumen pelayaran MPR/JPR, kata Samsuddin, tidak membagi dalam kategori jarak pelayaran.
“Secara materi sebenarnya sama.SKK dulunya itu juga sebetulnya diperuntukkan untuk nelayan. Kali ini nanti kita sama, mau nelayannya, mau pelayaran rakyatnya, kapal wisatanya, itu semua menggunakan MPR/JPR,” jelas Samsuddin.
Pelatihan batch pertama itu melibatkan 180 peserta dengan jumlah kehadiran 91 peserta. Terdiri dari, 60 orang Mualim dan 31 Juru Motor. Mereka bekerja sebagai kru kapal wisata dan kapal pelayaran rakyat yang ada di Bali. (Way)
