Dorong UMKM Berbasis Edutourism, LSPR Institute Ajak Pelaku Usaha Usung Konsep Storytelling

oleh
Tim dosen dan mahasiswa LSPR Institute menggelar program pengabdian kepada masyarakat (PkM) kepada UMKM Gede Jamur dan Desa Pidpid di Karangasem, Bali - foto: Ist.

KORANJURI.COM – Program pengabdian masyarakat yang dilakukan dosen LSPR Institute melihat pengembangan UMKM bukan hanya berfokus pada produk yang dihasilkan saha. Tapi justru menekankan pada storytelling yang dapat dibawa ke edutourism.

Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) LSPR Institute Jati Paras Ayu mengatakan, cerita di balik produk memberikan pengalaman berbeda untuk wisatawan. Secara tidak langsung mereka akan tertarik untuk membeli produk.

“Konsep yang kami dorong bukan hanya bagaimana produk UMKM terlihat menarik, tapi bagaimana produk tersebut dapat bercerita dan memberikan pengalaman kepada konsumen,” kata Jati Paras, Jumat, 18 September 2026.

Di samping itu, kemasan produk yang menarik menjadi bagian dari media komunikasi. Sedangkan, teknologi digital menjadi jembatan untuk menghadirkan pengalaman edukasi yang lebih interaktif.

Dalam program PkM LSPR Institute itu, tim dosen memberikan pendampingan kepada dia mitra yakni, UMKM Gede Jamur sebagai dan Pokdarwis Desa Pidpid, Karangasem, Bali.

Gede Jamur merupakan UMKM yang bergerak pada budidaya jamur tiram. Jati Paras mengatakan, produk jamur tidak hanya diposisikan sebagai komoditas yang diperjualbelikan. Tapi juga sebagai bagian dari pengalaman wisata edukatif.

“Wisatawan dan konsumen dapat memperoleh informasi mengenai proses budidaya jamur, nilai produk, hingga pesan keberlanjutan melalui konten digital yang terintegrasi dengan produk,” jelasnya.

Pendekatan storynomic, kata Jati, menjadi salah satu elemen penting dalam program ini. Cerita mengenai produk, proses budidaya, masyarakat, dan nilai keberlanjutan dikemas menjadi bagian dari pengalaman konsumen.

“Produk diharapkan memiliki nilai emosional dan edukatif yang lebih kuat,” tambahnya.

Salah satu inovasi utama dalam program ini adalah penerapan kemasan biodegradable berbasis kisah yang terhubung dengan teknologi digital melalui QR Code.

Hanya dalam sekali klik, konsumen dapat mengakses konten edukasi dan informasi terkait produk serta pengalaman edutourism.

Sehingga, kemasan tidak hanya berfungsi sebagai pelindung produk. Tapi, juga menjadi media komunikasi yang menghubungkan konsumen dengan informasi digital yang ingin disampaikan.

Sementara, founder Gede Jamur I Gede Artha mengatakan, pendampingan yang diberikan diharapkan membantu produk memiliki identitas yang lebih kuat. Sekaligus, memperkenalkan proses budidaya jamur kepada masyarakat dan wisatawan.

“Harapannya, konsumen tidak hanya membeli produk jamur, tapi juga mengetahui cerita di balik produk tersebut, bagaimana prosesnya, dan bagaimana produk ini menjadi bagian dari potensi Desa Pidpid,” ujar I Gede Artha. (Way)