KORANJURI.COM – Bagi seniman I Gede Sugiada, pameran lukisan ‘Vernal Artistic’ yang menampilkan karya kolaborasi empat perupa di Bali, menjadi ruang validasi terhadap transformasi dirinya selama lima tahun terakhir.
Pencarian artistik serta evaluasi setiap karya dan gagasan yang telah dilalui, menghasilkan karakter baru yang segar, hangat dan penuh semangat. Keberanian mengeksplorasi warna-warna cerah menggambarkan elemen gambar yang imajinatif.
“Ketika saya berproses saya ingin menghilangkan image saya yang magis, emosional, atau ketakutan menjadi kebahagiaan. Dengan transformasi ini, saya ingin mengajak penikmat seni rupa ikut masuk ke dalamnya,” kata Sugiada di Santrian Art Gallery, Denpasar, Jumat, 8 Mei 2026.
Menurutnya, selama lima tahun terakhir ini bagi Sugiada, menjadi masa krusial hingga berhasil merombak kebiasaan dan pakem melukisnya.
Dalam pameran lukisan yang berlangsung hingga Juni 2026 itu, Gede Sugiada ingin menunjukkan transformasi dari karya-karya terbaru yang dihadirkan.
“Bagi saya kalau ada lukisan saya yang terjual itu hanya bonus. Tapi yang paling penting, penikmat seni rupa memahami transformasi karya saya dan menerimanya,” ujarnya.
Keberanian I Gede Sugiada terlihat dalam karyanya berjudul ‘Tentang Perjalanan’ di atas kanvas berukuran 185×160 cm. Dia mengatakan, lukisan cat minyak itu adalah gambaran perjalanan hidupnya.
Eksplorasi warna yang jarang digunakan, berani ia torehkan di atas kanvas. Seperti warna pink, ungu, hijau daun menyatu dalam kisah ‘Tentang Perjalanan’.
“Dulu saya tidak bermain warna, cenderung warna gelap, hitam dan coklat. Tapi kritikan muncul dari penggemar seni asal Jepang, dia suka lukisan saya tapi ketika bangun pagi justru semangatnya hilang melihat lukisan saya,” jelasnya.
“Ini tahun pertama saya tampil dengan karya baru,” tambahnya.
Empat perupa dalam pameran ‘Vernal Artistic’ itu yakni, Putu Edi Asparanggi, I Gede Sugiada atau Anduk, Ida Bagus Suryantara ‘Koh’ dan Dewa Gede Agung.
Lukisan Panel
Kurator Made Susanta Dwitanaya mengatakan, Vernal Artistic berarti Musim Semi Artistik. Dalam dunia kreasi, ada masa dimana pelaku kreatif memilih untuk berhenti sejenak.
Namun, mereka tidak berhenti mengeksplorasi gagasan. Mereka menghilang sejenak untuk mencari gagasan artistik yang segar dan menampilkannya kembali.
“Mereka melukis bukan untuk menggambarkan tapi untuk menghidupkan, mereka menumpahkan rupa untuk memaknai waktu,” kata Made Susanta.
Sejumlah karya lukisan yang dipamerkan tidak hanya tunggal. Tapi, ada dalam bentuk lukisan panel yang menciptakan kesinambungan narasi satu sama lain.
“Seperti karya Gede Agung dan Gede Suryantara, mereka menampilkan karya lukisan panel. Dalam dunia seni lukis kehadiran panel lazim terjadi, untuk menghadirkan karya instalatif,” ujarnya. (Way)
