Kidung Aji Warangka : Mantera Jamasan Pusaka Tembang Asmaradana

oleh
Seorang Empu tengah menempa keris buatannya di di Padepokan Keris Brojobuwono, Karanganyar, Jawa Tengah - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM-Dalam tradisi masyarakat Jawa, Keris pusaka atau Tosan aji tidak hanya berfungsi sebagai pegangan berkaitan dengan nilai spiritual tentang keillahian, namun juga symbol kewibawaan, kekuasaan dan kemulyaan bagi para pemiliknya.

Oleh karena itu dalam merawat pusaka, tosan aji tidak cukup hanya di beri sandangan, tetapi juga perlu di jamas setiap waktu tertentu. Baik keris yang dibuat pada masa sekarang maupun peninggalan masa lalu.

Untuk melakukan ritual jamasan pusaka tersebut tidak semua orang bisa melakukanya, sebab prosesi yang harus dilakukan sangat sakral. Apalagi jika masih berpegang pada tradisi para mpu masa lalu.

Jamasan dapat dimaknai sama halnya dengan membersihkan atau mensucikan lahiriah maupun batiniyah. Oleh karena itu dalam prosesi jamasan seorang empu tidak harus mengoles warangan agar besi tidak mudah korosi, tetapi juga bisa di lakukan hanya dengan cara membasuh air bunga yang sudah di bacakan mantera.

Jamasan dengan cara membasuh tersebut dapat dilakukan apabila besi Tosan aji masih dalam kondisi baik terlapisi warangan, tidak teyeng atau berkarat. Sedangkan jika berkarat maka lebih dulu harus di bersihkan baru kemudian berlanjut pada tahapan selanjutnya.

Jamasan adalah sebuah ritual sacral yang tidak semua orang bisa melakukanya. Doa atau mantera dalam ritual jamasan menjadi sesuatu hal yang baku di lakukan agar proses jamasan berlangsung dengan aman dan lancar.

Sementara itu salah satu mantera untuk ritual jamasan karya budayawan Ki Joko Budaya yang kerap di pakai untuk ritual jamasan yaitu Kidung Aji Warangka.

Kidung Aji Warangka di ambil dari kisah Mas Cebolang dalam Serat Centhini saat ia bersama para muridnya berada di sumber mata air Sendang Selakapa di Gunung Taruwangsa.

Saat itu Mas Cebolang mengambil pusaka keris miliknya kemudian mencelupkan kedalam sendang selakapa di ikuti para mmuridnya. Usai di celupkan kedalam sedang selakapa pusaka tersebut terlihat angker, perbawanya sangat luar biasa.

Berdasar dari perjalanan Mas Cebolang tersebut mantera kidung jamasan aji warangk di tulis sebagai ungkapan doa, sekaligus wujud kecintaan anak cucu pada maha karya mpu leluhur Nusantara.

Selain berlatar belakang serat Centhini, Kidung Aji Warangka juga merupakan mantra doa yang di kemas dalam bentuk tembang macapat Asmaradana.

Berikut Mantera Tembang Kidung Aji Warangka karya Ki Djoko Budaya pupuh 1-3/

KIDUNG AJI WARANGKA

1. Mulat wingit dung puniki
Ingaran aji warangka
Panggandring karya arane
Nata rasa jroning mawa
Tirta suci sela kapa
Winasuh warang sinulur
Winayuh sajroning rasa

2. Pusakane Tosan aji
Karya nyata nuswantara
Warangka klawan wilahe
Manunggal klawan pangeran
Jiimat pusakane jiwa
Ageman para leluhur
Pinayung bumi akasa

3. Gusti Kang Murbeng Dumadi
Kawula tansah pepuja
Klawan rasa lan karsane
Rahayu slamet laminya
Jiwa jawi Nusantara
Tansah emut pra leluhur
Adi luhung karya nyata’.