Sejumlah Tokoh Budayawan Di Solo Gelar Ritual Umbul Donga Untuk Keselamatan Bangsa Dan Negara

oleh
Sejumlah tokoh budayawan di Kota Solo menggelar ritual Umbul Donga untuk keselamatan bangsa dan negara - foto: Koranjuri.com

Filosofi dan ajaran para leluhur Nusantara tentang nilai-nilai demokrasi seperti halnya mikul dhuwur mendhem jero, menang tan ngasorake, jer basuki mawa laksana dan filsafat jawa lainnya yang dimiliki oleh bangsa ini.

“Sebenarnya ajaran bagi kita para penerus bangsa untuk berdemokrasi tanpa harus melukai dan mencederai,” ujarnya.

Nilai-nilai luhur yang terkandung dalam ajaran tersebut tidak hanya relevan dipakai dalam keseharian. Namun juga untuk menata bangsa dan negara.

Padahal jauh sebelum negara barat berdemokrasi, Nusantara telah membangun toleransi dan demokrasi dalam kehidupan sehari hari.

Perbedaaan berkeyakinan yang terjadi di masa silam hingga berlangsung di era pemerintahan Mataram Islam yang mendaulat raja sebagai Panatagama, adalah bukti bangsa ini telah memiliki demokrasi sejak ribuan tahun silam.

“Sebagai bangsa timur yang menjunjung tinggi nilai nilai luhur budi pekerti, etika dan adab, seharusnya kita malu melihat demokrasi yang terjadi saat ini. Demokrasi barat yang hanya mementingkan kelompok dan golongan dengan mengkapitalisasi kepentingan atas nama kebebasan berekspresi dan pemikiran intelektual,” jelasnya.

Padahal dalam ajaran luhur para winasis dan agama, ilmu tanpa dibarengi etika adab dan budi pekerti, maka hanya akan menjadi alat perusak. Oleh sebab itu demokrasi bangsa ini harus tidak boleh tercabut dari akar budaya yang ada.

Penguatan nilai-nilai sejarah dan budi pekerti harus dikembalikan lagi, agar generasi muda tidak hilang ingatan pada sejarah bangsanya sendiri.

Cita-cita menuju Indonesia emas 2045 tak hanya bagian dari arah perjalanan bangsa yang harus memiliki konsistensi kebijakan, jika kemakmuran menjadi alasan bagi generasi penerus dalam membangun bangsa dan negara.