Produk Kakao Tembus Pasar Dunia, Desa Ekasari Jembrana Bakal Jadi Agrowisata

    


Tanaman Kakao di lahan petani Gapoktan Merta Abadi di Desa Ekasari, Kecamatan Melayani, Kabupaten Jembrana, Bali - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Gapoktan Merta Abadi jadi road model di Kabupaten Jembrana untuk penanaman Kakao. Kabupaten di ujung Barat Pulau Bali itu memiliki total luas lahan Kakao 6.300 hektar.

Dari total lahan itu, 4000 ha diantaranya merupakan lahan produktif. Hanya saja, hasilnya kurang lebih 2.800 ton per hektar per tahun.

Ketua Kelompok Tani Merta Abadi Kadek Suantara menjelaskan, Desa Ekasari di Kabupaten Jembrana bakal dijadikan kawasan Agrowisata Kakao.

Sebagai road model penanaman Kakao di Jembrana, Gapoktan Merta Abadi ditopang 29 orang anggota. Ditambah, kelompok pendamping berjumlah anggota 35 orang. Sedangkan total lahan yang digarap seluas 70 hektar.

Namun, kata Suantara, luas lahan yang baru ditanami hanya 25 hektar dan lahan yang baru menghasilkan seluas 15 hektar.

“Jadi kalau ada teman-teman lain yang akan belajar bertanam dan berbudidaya yang baik, kita akan berikan edukasi,” kata Kadek Suantara, Rabu, 23 Februari 2022.

Gapoktan Merta Abadi sendiri menjadi kelompok tani binaan Bank Indonesia sejak tahun 2017. Suantara menambahkan, BI memiliki peran penting dalam membantu petani Kakao mulai cara budidaya, pembuatan pupuk, maupun penyediaan peralatan.

“Kita sangat bersyukur dengan BI yang membina kita sampai kelompok ini menjadi maju seperti sekarang,” ujarnya.

Sementara, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Jembrana Wayan Sutama menambahkan, Kakao menjadi produk pertanian unggulan di Jembrana. Sektor pertanian memiliki potensi besar untuk meningkatkan PAD.

“PAD Jembrana hanya Rp 140 miliar, tapi punya potensi untuk tidak miskin dari peningkatan sektor pertanian,” kata Sutama.

Hasil pertanian Kakao sendiri sampai saat ini telah masuk pasar ekspor di sejumlah negara di Eropa seperti Palrona di Prancis, Jerman, Italia, Jepang dan Belanda.

“PAD kita sangat kecil di tengah peluang yang luar biasa. Untuk ekspor sampai sekarang hanya biji kering fermentasi. Harapan ke depan nanti bisa ekspor produk olahan apakah turnip, pasta, maupun batangan,” jelas Wayan Sutama. (Way)