KORANJURI.COM – Pemerintah Provinsi Bali merancang program mandiri energi dan energi bersih sejak 2019.
Namun, program itu belum berjalan optimal. Sampai akhirnya, Presiden Prabowo Subianto meresmikan proyek PLTS 100 Gigawatt peak (GWp) pada 25 Agustus 2026.
- Proyek Rp9,157 triliun diresmikan Prabowo: PLTS 100 Gigawatt peak di Kecamatan Melaya, Jembrana diresmikan Presiden Prabowo Subianto pada 25 Agustus 2026 dan ditargetkan selesai dalam 3 tahun.
- Hemat BBM dan ubah listrik Bali: PLTS ini diproyeksikan menghemat BBM 151 kilo liter per tahun, menggeser listrik Bali dari energi fosil yang mahal ke energi surya domestik yang murah dan andal.
- Butuh dukungan publik dan investor: AESI dan CPI menilai keberhasilan proyek butuh regulasi jelas, pembiayaan hijau, dan pemberitaan akurat agar investor yakin dan masyarakat merasakan manfaat listrik andal hingga lapangan kerja hijau.
PLTS yang diproyeksikan mampu menghemat BBM sebanyak 151 kilo liter per tahun itu, berlokasi di Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana.
Ketua Umum Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI) Mada Ayu Habsari mengungkapkan, PLTS yang membutuhkan investasi Rp 9,157 triliun itu menjadi ambisi sekaligus mandat kerja.
“Pemerintah, pelaku industri, dan publik perlu bergerak bersama untuk memahami dan mengawal setiap prosesnya,” kata Mada dalam Media Training.
Kegiatan yang berlangsung secara hybrid itu, mempertemukan jurnalis dari media nasional dan daerah, dalam mengangkat praktik baik pemanfaatan PLTS di berbagai daerah, Jumat, 6 November 2026.
“Sekaligus menghadirkan konteks lokal yang lebih dekat ke masyarakat,” kata Mada.
Ia menambahkan, pemerintah, pelaku industri, dan publik perlu bergerak bersama untuk memahami dan mengawal setiap prosesnya. Pemberitaan terkait dengan energi, kata Mada, bukan hanya sekedar hadir untuk memenuhi kebutuhan pencapaian proyek triliunan tersebut.
Tapi, mencakup manfaat nyata yang dirasakan masyarakat, mulai dari listrik yang lebih andal, terbukanya lapangan kerja hijau, hingga tumbuhnya ekonomi lokal.
PLTS menggeser kelistrikan Bali dari menggunakan bahan bakar fosil beralih ke energi domestik. Dari energi mahal menjadi energi yang murah, dari energi fosil menjadi energi baru terbarukan.
Penggunaan energi bersih mendukung Pulau Bali sebagai destinasi wisata dunia. Energi hijau juga lebih andal dan ekonomis. Proyek PLTS 100 GWp di Jembrana, Bali ditargetkan selesai dalam waktu tiga tahun.
Mada menambahkan, kapasitas terpasang PLTS nasional hingga pertengahan 2026 tercatat sekitar 1,5 gigawatt (GW). Hal itu menunjukkan besarnya pekerjaan yang masih perlu dilakukan bersama.
Selain kesiapan regulasi, industri, dan sistem kelistrikan, upaya yang ada juga membutuhkan informasi yang akurat dan mudah dipahami masyarakat.
“Termasuk informasi di daerah, tempat proyek dan manfaat PLTS dirasakan secara langsung,” jelasnya.
Director, Climate Policy Initiative (CPI) Indonesia Tiza Mafira mengatakan, pembiayaan proyek PLTS terus meningkat di Indonesia. Termasuk, peluang pendanaan hijau global.
Serta, kriteria yang dinilai bank dan investor untuk menentukan kelayakan pembiayaan bankability sebuah proyek.
Dia menambahkan, investor membutuhkan kepastian pasar. Salah satunya adalah, terlihatnya opsi proyek PLTS ditambah antusiasme masyarakat yang terlihat di berbagai media
“Keyakinan investor tidak hanya dibentuk oleh kepastian regulasi, tapi juga oleh cara publik memahami peluang pengembangan energi surya di dalam negeri,” kata Tiza.
Dari Bali, kebutuhan lahan untuk pembangkit listrik panel surya itu akan menggunakan aset milik negara yang tidak produktif. Lahan itu akan dibebaskan untuk memberikan manfaat kepada masyarakat.
Manager Pengendalian Aneka Energi Baru dan Terbarukan PT PLN (Persero) mengungkapkan, PLTS jadi tumpuan penambahan pembangkit energi terbarukan dalam RUPTL 2025–2034.
Joko menjelaskan, sebuah proyek PLTS melewati banyak tahapan dan melibatkan banyak pihak. Keberhasilan program kelistrikan memerlukan dukungan publik.
“Kami berharap, dukungan publik terhadap pengembangan PLTS di Indonesia akan terus tumbuh demi meningkatkan ketahanan energi listrik bagi masyarakat,” kata Joko Purnomo. (Way)
