Peran Perempuan Memutus Mata Rantai Covid-19 melalui Gerakan PKK

    


Ketua TP PKK Bali Putri Suastini Koster menjadi salah satu narasumber dalam Seminar Online Poltekkes Kemenkes Denpasar yang bertajuk 'Gerakan Pemberdayaan Perempuan Memutus Mata Rantai Covid-19', yang diadakan secara daring, Sabtu (15/8/2020) - foto: Istimewa

KORANJURI.COM – Sejak 5 bulan lalu, Indonesia termasuk Bali turut dilanda wabah Covid-19 yang mengakibatkan dampak dalam berbagai sektor, khususnya sektor kesehatan dan ekonomi.

Sampai saat ini, kedua sektor ini masih menjadi fokus pemerintah dalam penanggulangan Covid-19 karena di Bali masih terjadi penyebaran covid-19. Untuk menanggulangi virus yang vaksinnya baru diujicoba ini, pemerintah tidak bisa bekerja sendiri.

Presiden mengamanatkan PKK turut membantu pemerintah dalam penanggulangan Covid-19 di masyarakat.

“Bapak Presiden dan saya pun percaya, seorang ibu memiliki peran penting dalam sosialisasi di lingkungan keluarga. Keluarga akan mendengarkan perkataan ibu dibandingkan orang-orang di luar sana,” kata Ketua TP PKK Provinsi Bali Putri Suastini Koster.

Ketua TP PKK Bali menjadi salah satu narasumber dalam Seminar Online Poltekkes Kemenkes Denpasar yang bertajuk ‘Gerakan Pemberdayaan Perempuan Memutus Mata Rantai Covid-19’, yang diadakan secara daring, Sabtu (15/8/2020).

Ditambahkan, pandemi covid-19 punya dampak besar di bidang ekonomi. Putri Koster mengatakan, pihaknya juga gencar melakukan sosialisasi program Hatinya PKK. Kegiatan itu sebagai cara memanfaatkan lahan bercocok tanam kebutuhan sehari-hari. Sehingga, di masa pandemi ini bisa dilakukan penghematan dan pemenuhan kebutuhan kebutuhan pangan keluarga.

TP PKK juga bekerja sama dengan BKKBN dalam mensosialisasikan penundaan kehamilan di masa pandemi bagi pasangan usia subur. Hal tersebut dilakukan untuk menjaga keamanan ibu dan bayi.

“Sehingga jika ibu hamil tidak menjaga protokol kesehatan dengan baik di masa pandemi ini maka akan berdampak buruk pada kesehatan,” ujarnya.

Narasumber lain yang hadir dalam seminar tersebut antara lain, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali Dr. Ketut Suarjaya, dan staf Khusus Menteri Kesehatan RI Dr. Mariya Mubarika. (*)