Menyulap Besi Bekas Roda Pedati Menjadi Keris

    


Proses tempa yang dilakukan pada pembuatan keris. Proses ini membutuhkan puluhan ribu kali penempaan sampai semua material besi tersampur dengan sempurna - foto: Koranjuri.com

Di kalangan penggemar keris, senjata buatan Pande Ketut nala sering dipesan para penekun spiritual di Banjar Babakan. Tapi ada pula pemesan dari daerah lain di Bali seperti kelompok masyarakat dari Jimbaran, Kedongan dan Nusa Dua. Karena karyanya dianggap bertuah, Nala yang sudah turun temurun membuat keris itu, sering mendapatkan pesanan keris untuk sebuah ritual seperti Ngurek atau ritual menusuk diri dengan menggunakan senjata keris.

“Kalau tidak kuat, pasti keris yang digunakan akan bengkok. Sebab kekuatan mereka besar sekali apalagi dalam keadaan kesurupan. Karena itu, saya sengaja membuat keris ngurek dengan bahan khusus biar kuat dan tidak bengkok atau patah. Tentu saja, logam bajanya harus lebih banyak, ” terang Pande Ketut Nala.

Bakalan keris berbahan besi yang belum dilakukan finishing - foto: Koranjuri.com

Bakalan keris berbahan besi yang belum dilakukan finishing – foto: Koranjuri.com

Berbagai macam keris berikut dengan fungsinya pernah diciptakan pria yang sudah tak lagi muda ini. Pada dasarnya, keris dibedakan menjadi dua macam, berluk atau keris yang memiliki lekuk dan keris tanpa lekuk. Disebutkan, keris berluk dipakai oleh seorang petinggi atau orang yang kedudukannya terhormat. Sementara, keris tanpa luk dipakai oleh kalangan masyarakat biasa.

“Kalau dulu jaman kerajaan, keris berlekuk dimiliki oleh raja, patih atau adipati. Sedangkan keris tanpa luk dimiliki oleh para prajurit sesuai tingkatannya. Tingkatan dalam militer kerajaan nampak dari bentuk kerisnya. Kalau prajurit muda bentuk kerisnya lurus,” jelas Pande Ketut Nala.
 
 
Way