KORANJURI.COM – Momentum libur panjang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) meningkatkan aktifitas ekonomi di Bali.
Kantor Perwakilan wilayah Bank Indonesia (KPwBI) Bali mencatat, pada periode libur panjang nasional pertumbuhan Indeks Penjualan Riil (IPR) Bali menguat sebesar 125,3.
Nilai itu masih berada di level optimis (>100), dengan kinerja meningkat sebesar 0,8% (mtm).
Kepala KPwBI Bali Achris Sarwani mengatakan, pertumbuhan penjualan didorong oleh kategori seperti suku cadang dan aksesori sebesar 5,0% (mtm), bahan bakar kendaraan bermotor 2,2% (mtm), serta barang budaya dan rekreasi sebesar 1,8% (mtm).
“Peningkatan permintaan terutama pada kelompok barang yang berkaitan dengan mobilitas, rekreasi, dan aktivitas konsumsi masyarakat,” kata Achris di Denpasar, Senin, 29 Juni 2026.
Menurutnya, pada momen HKBN serta hari jadi Kabupaten Gianyar dan Klungkung mendorong mobilitas masyarakat dan meningkatkan perekonomian daerah.
Sedangkan, IPR Mei 2026 diprakirakan sebesar 126,0, atau meningkat 0,6% (mtm). Kondisi itu ditopang oleh peningkatan penjualan pada kategori sandang, barang lainnya, serta makanan, minuman, dan tembakau.
“Perkembangan tersebut sejalan dengan tetap kuatnya permintaan masyarakat di tengah periode HBKN Kenaikan Yesus Kristus, Iduladha, dan Waisak,” kata Achris.
Kondisi yang ada pada dua bulan sebelumnya, dari perkiraan Bank Indonesia akan menumbuhkan ekspektasi harga secara umum. Pada periode Juli-Oktober mendatang diperkirakan meningkat.
Menurut Achris, Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) Juli 2026 dan Oktober 2026 meningkatkan signifikan sebesar 200, dibandingkan IEH pada Juni 2026 dan September 2026 sebesar 192,0.
“Meski ada ekspektasi harga tapi perlu terus dicermati tekanan inflasi di tengah krisis global. Pada Mei 2026, inflasi Bali tercatat sebesar 2,99% (yoy) meski tetap berada dalam rentang sasaran inflasi Indonesia sebesar 2,5±1%,” jelasnya.
Di sisi lain, Bank Indonesia memperkirakan Indeks Ekspektasi Penghasilan (IEP) dalam tiga bulan mendatang ikut terkerek.
Pada Juli 2026 sebesar 172,0, atau meningkat dari IEP Juni 2026 sebesar 170,0. Sedangkan, IEP enam bulan mendatang yakni, pada bulan Oktober 2026 tercatat sebesar 190,0, lebih tinggi dibandingkan IEP September 2026 sebesar 184,0.
Bank Indonesia ikut mengerek suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 5,50%, suku bunga Deposit Facility sebesar 4,50%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,25%. (Way)
