KORANJURI.COM – Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali I Wayan Sumarajaya mengungkap tantangan yang dihadapi pariwisata Bali akibat kondisi gepolitik dunia.
Menurutnya, Bali yang bergantung pada kunjungan wisatawan akan semakin berat dengan dinamika global.
Menurutnya, pada tahun 2025 kunjungan wisatawan wisatawan asing ke Bali mencapai 7,05 juta orang dan wisatawan domestik 9,6 juta orang.
“Angka-angka itu harus diperhatikan dan kita semua berharap jumlah kunjungan di tahun ini akan melebihi dari yang sudah ada,” kata Sumarajaya di BBTF, Nusa Dua, Bali, Jumat, 29 Mei 2026.
Di sisi lain, kebutuhan pariwisata Bali saat ini bukan hanya mengandalkan pariwisata massal yang menghitung jumlah kunjungan. Namun, mass tourism harus segera bertransformasi menjadi quality tourism.
Dia mengatakan, cara untuk mendongkrak kualitas kunjungan salah satunya melalui event meetings, incentive, conferences, exhibitions (MICE).
“BBTF merupakan salah satu event yang dibanggakan. Saya sangat mengapresiasi pelaksanaan BBTF ini sebagai satu2nya event di Bali dengan pelaksanaan yang terorganisir dengan baik,” kata Sumarajaya.
Dampak BBTF tidak hanya dirasakan oleh hotel dan pelaku usaha besar. Platform ini juga membuka peluang bagi perusahaan perjalanan lokal, pelaku wisata budaya dan wellness.
Termasuk, rantai nilai pariwisata Indonesia berbasis gastronomi, operator transportasi, destinasi wisata, atraksi, layanan pariwisata, serta UMKM.
Chairman BBTF 2026 sekaligus Ketua ASITA Bali I Putu Winastra menambahkan, bursa pariwisata itu telah berkembang melampaui fungsi sebagai pameran pariwisata.
BBTF kini menjadi platform bisnis yang membangun kepercayaan antara ekosistem pariwisata Indonesia dan pasar global.
“Dukungan dua Kementerian Pariwisata dan Kementerian Luar Negeri memperkuat peran BBTF dalam promosi destinasi, kepercayaan pasar dan diplomasi ekonomi,” kata Winasta.
Sementara, pembukaan bussiness to bussiness (B2B) Travex dilakukan oleh Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana, Jumat, 29 Mei 2026. (Way)
