KORANJURI.COM – Anggota Komisi VII DPR RI Samuel Wattimena mengagumi kearifan lokal yang masih dipegang teguh oleh masyarakat Bali.
Dirinya melihat, Desa Adat Penglipuran di Kabupaten Bangli, tidak hanya sarat dengan keindahan arsitektur dan kebudayaannya. Tapi, desa yang menyandang predikat terbersih di dunia versi UNESCO itu, juga punya kearifan lokal yang mengakar.
Menurutnya, bagian-bagian yang ada di desa itu juga mengatur tentang tata cara berkehidupan secara sosial.
“Tadi saya melihat di sini ada yang namanya Karang Memadu, area yang berfungsi untuk memberikan sanksi bagi warga desa yang poligami,” kata Samuel di Bangli, Kamis, 9 Juli 2026.
Kearifan lokal itu menjadi keindahan tersembunyi yang perlu disampaikan kepada publik. Sehingga keindahan yang dimiliki desa Penglipuran juga bermanfaat untuk khalayak luas.
Informasi yang sedemikian masif di tengah disrupsi digital menurut Samuel, bisa saja mengalahkan informasi yang bermanfaat. Seperti, kearifan lokal yang masih hidup dan berkembang di masyarakat.
“Jangan sampai kekuatan berita di media sosial ini mengalahkan kekuatan local wisdom kita, ini saatnya kita berbicara,” kata Samuel.
“Dan keindahan ini menurut saya harus dipublikasikan bersamaan dengan gaya hidup yang ada di masyarakat,” tambahnya.
Sementara, Bupati Bangli Sang Nyoman Sedana Arta mengatakan, pariwisata di Desa Penglipuran sudah dibangun di tahun 1990. Destinasi budaya itu berkembang di atas semangat kebersamaan dan gotong royong.
“Festival Desa Penglipuran yang menjadi event tahunan ini memberikan dampak signifikan dan manfaat ekonomi, termasuk PAD,” kata Sedana Arta.
Di tahun 2025, retribusi wisata dari destinasi Desa Penglipuran mencapai Rp26 miliar. Menurutnya, banyaknya kunjungan wisatawan harus diimbangi dengan upaya yang berkelanjutan. (Way)
