Dalam hal ini, pedagang atau pemilik produk juga perlu memiliki skill untuk mengoperasikan gadget dan wawasan terkait pola marketing yang dilakukan.
“Bagaimana menyajikan produk, supaya apa yang disajikan sesuai ekpektasi, sesuai pemahaman konsumen kita secara digital, itu yang penting,” kata Wayan Jarta yang juga Ketua Harian Dekranasda Provinsi Bali.
Pemasarab secara digital juga dibutuhkan kepastian produk, ketersediaan dan keberlangsungan produk itu sendiri.
“Supaya jangan sampai ketika sudah ada pasar, ada respons balik dari konsumen ternyata tidak bisa dilayani,” kata Wayan Jarta.
Sementara, Rektor ITB STIKOM Bali Dadang Hermawan mengungkapkan, kampus IT terbesar di Bali Nusra itu memiliki korelasi dengan pola usaha di masa depan yang memanfaatkan teknologi digital.
ITB STIKOM Bali saat ini mengembangkan prodi Bisnis Digital. Mahasiswa yang memilih prodi Bisnis Digital ini akan mengantongi gelar Sarjana Bisnis (S.Bis). Prodi lain yang dikembangkan di ITB STIKOM Bali antara lain, Teknologi Informasi, Sistem Komputer, Sistem Informasi dan Program D3.
“Kami juga ada dual program internasional antara ITB STIKOM Bali dengan Help University, Kuala Lumpur, gelarnya juga ada dua, S.Kom dan Bachelor of IT,” kata Dadang Hermawan.
Dual degree lainnya yakni kerja bareng ITB STIKOM Bali dengan Universitas Bina Nusantara (Binus) dan dual degree dengan Sekolah Tinggi Teknologi Bandung yaitu, dual degree Sistem Informasi dan Desain Komunikasi Visual (DKV).
“Rencananya kami menjadi ‘super market’ dual degree disini, sehingga banyak pilihan untuk anak-anak kita,” kata Dadang Hermawan. (Way)
Koranjuri.com on Googlenews






