KORANJURI.COM – Bali Flower Festival 2026 yang digelar di Kampus UID, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura Kura Bali, jadi ruang pertemuan para florist dan pelaku UMKM.
Festival yang digelar selama dua hari, 14-15 Juli 2026 itu diisi dengan sejumlah agenda di antaranya, Seminar Demo dan Biztalk, hingga sesi Bisnis Panel dan Workshop.
Termasuk, keunikan Flower Couture dan Gala Dinner yang digelar pada hari terakhir.
Ketua Panitia BFF 2026 Yuliana Rara mengatakan, festival bunga itu menargetkan 3.000 hingga 3.500 orang. Namun, antusiasme pengunjung tahun ini jauh lebih tinggi.
Tercatat, 4.813 pengunjung memadati UID Bali Campus, KEK Kura Kura Bali selama dua hari penyelenggaraan.
“Jumlah itu naik sekitar 38 persen dari target yang ingin dicapai,” kata Yuliana, Jumat, 17 Juli 2026.
Festival bunga itu terselenggara dengan menggandeng produsen dan distributor bunga potong segar terkemuka di Indonesia Omniflora.
Menurut Yuliana, lokasi penyelenggaraan dengan konsep kampus mudah diterima oleh para Gen Z. Spot yang ada di Kura Kura Bali juga sangat menarik bagi mereka.
“Pemilihan UID Bali Campus, KEK Kura Kura Bali sebagai lokasi acara merupakan langkah strategis penyelenggara,” jelas Yuliana.
Yang membedakan antara pelaksanaan BFF tahun 2024 dengan 2026 adalah pelibatan UMKM. Yuliana mengatakan, tenant UMKM yang terlibat bukan hanya memiliki usaha florist. Tapi, banyak juga yang membawa ragam usaha lain.
“Tahun ini kami menghadirkan Flower Museum di Ruang Melajah, UID Bali Campus. Area ini menjadi galeri yang memamerkan karya para florist,” ujarnya.
President UID Foundation Tantowi Yahya mengungkapkan, semangat festival ini sejalan dengan visi kawasan.
“Kami merasa senang Bali Flower Festival berlangsung di UID Bali Campus, KEK Kura Kura Bali. Festival ini bukan sekadar pameran bunga tapi tempat bertemunya kreativitas dengan peluang bisnis,” kata Tantowi.
Menurutnya, kampus UID sering berbicara mengenai gagasan sederhana, ‘Better Business, Better World’. Ketika sebuah bisnis berkembang dengan cara yang benar, manfaatnya tidak berhenti pada keuntungan perusahaan.
“Ia akan menciptakan lapangan kerja, menggerakkan ekonomi lokal, memberdayakan masyarakat, sekaligus menjaga lingkungan dan budaya,” jelas Tantowi.
Sementara, Celine, salah satu pengunjung, menemukan kenyamanan tersendiri lewat ragam aktivitas kreatif yang dihadirkan.
“Pada dasarnya, aku memang suka liat bunga sih. Jadi emang tertarik banget karena aku liat di TikTok juga postingannya, bunga-bunganya memang jarang ada di tempat toko-toko bunga. Jadi emang excited banget waktu datang kesini,” ujar Celine. (Way)
