KORANJURI.COM – Setidaknya ada 155 spesies burung yang tercatat berada di Kawasan Ekonomi Khusus Kura Kura Bali, Denpasar. Jumlah itu telah dipantau selama tiga tahun.
Dalam master plan pengembangan kawasan, terdapat area seluas 76 hektar yang dijaga sebagai ruang hijau.
Head of Communications Department Kura Kura Bali Zefri Alfaruqy mengatakan, spesies tersebut terbagi menjadi tiga kategori utama yakni, 56 spesies menetap (sedentary), 81 spesies migrasi (migratory) dan18 spesies yang berstatus pengunjung rutin (visitor).
“Di dalam kawasan kami memiliki kekayaan biodiversitas yang sangat baik. Keberadaan ratusan spesies burung yang unik ini menjadi indikator positif bahwa lingkungan KEK Kura Kura sangat terjaga,” kata Zefri di Denpasar, Jumat, 26 Juni 2026.
Kura Kura Bali yang menjadi bagian daratan di pulau Serangan, menjadi salah satu tempat migrasi kawanan burung yang berasal dari Australia. Fenomena itu menjadi pergerakan musiman yang umumnya muncul di kisaran bulan Mei hingga Juli.
Menurutnya, ada tiga spesies burung yang rutin berkunjung dalam setiap perubahan musim di Australia yakni, burung Layang-layang api (Hirundo rustica) Terik australia (Stiltia isabella), Undan kacamata (Pelecanus conspicillatus) atau Pelikan australia. Hingga, burung laut besar Angsa Batu Cokelat (Sula leucogaster).
“Spesies migratory ini cukup tinggi yang kami catat, dan kawasan KEK Kura Kura memang kerap menjadi titik singgah yang nyaman bagi kawanan burung yang sedang dalam rute migrasi,” jelas Zefri.
Beberapa spesies burung terbilang unik dan menarik. Beberapa di antaranya yang sering terpantau hidup dan beraktivitas yakni, Ibis Rokoroko, Kuntul Karang dan Undan Kacamata yang merupakan spesies burung air terbesar dalam keluarga Pelikan.
Spesies lain yang sering terlihat dan masuk dalam kategori visitor di antaranya, Mandar batu (Gallinula chloropus), Ibis rokoroko (Plegadis falcinellus) dan Cica-daun besar (Chloropsis sonnerati) atau biasa disebut Cucak Ijo.
Sedangkan spesies menetap yang ada di kawasan pulau Serangan yakni, Berkik ekor kipas (Gallinago gallinago), Kekep babi (Artamus leucorynchus) dan Cipoh kacat (Aegithina tiphia) yang merupakan burung pengicau kecil.
“Sebagai wujud komitmen pelestarian lingkungan pengelola secara proaktif dan rutin metakukan pemantauan internal serta mendokumentasikannya,” jelasnya.
Gandeng Pakar Ornitologi
Zefri menjelaskan, pemantauan spesies burung tersebut dilakukan dengan menggandeng Ornitolog Luh Putu Eswaryanti Kusuma Yuni bersama dosen Biologi di Universitas Udayana.
BTID sebagai pengelola KEK Kura Kura terbuka dan siap bersinergi dengan instansi terkait seperti, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA).
“Ini untuk memastikan keberlanjutan. Kami menyadari pelestarian ekosistem membutuhkan sinergi dengan para ahli,” ujarnya.
Dari seluruh luas kawasan, BTID menetapkan 76 hektar digunakan sebagai kawasan hijau. Luas itu ditambah area mangrove milik Taman Hutan Raya (Tahura) seluas kurang lebih 31 hektar.
“Kami memiliki ketentuan agar setiap kavling juga mempertahankan sekitar 25% dari areanya untuk dirawat sebagai ruang terbuka hijau,” jelasnya. (Way)
