Gong Kebyar Bangli Angkat Ritus Sakral Songan

oleh
Duta Kabupaten Bangli yang diwakili Sekaa Gong Tirta Nirmala Ulundanu Batur, Desa Adat Songan, Kecamatan Kintamani, tampil dalam pementasan Utsawa Gong Kebyar Dewasa di Pesta Kesenian Bali, Rabu (1/7/2026) - foto: Ist.

KORANJURI.COM – Duta Kabupaten Bangli yang diwakiliekaa Gong Tirta Nirmala Ulundanu Batur, Desa Adat Songan, Kecamatan Kintamani, tampil dalam pementasan Utsawa Gong Kebyar Dewasa di Pesta Kesenian Bali, Rabu (1/7/2026).

Penampilan itu diiringi duta pendampinh dari Sanggar Seni Semara Budaya, Banjar Badak Sari, Desa Sumerta Klod, Denpasar Timur.

Tari Ratu Kebasan yang ditampilkan merupakan garapan yang mengangkat ritual sakral masyarakat Desa Songan.

Karya ini menggambarkan perjalanan manusia menuju penyucian diri melalui proses spiritual. Diawali dengan gerakan yang tenang. Kemudian, berkembang menjadi gerak dinamis penuh energi, ketika kekuatan suci hadir dalam prosesi kerauhan.

Melalui koreografi yang sarat simbol, tarian tersebut memperlihatkan transformasi batin manusia dalam melepaskan ego dan menyerahkan diri kepada kehendak alam semesta.

Gerak spontan, lompatan, hingga hentakan yang intens membangun atmosfer magis yang menjadi ciri utama tradisi sakral tersebut.

Sedangkan, Duta Kota Denpasar membuka penampilannya dengan Tari Banda Yowana, sebuah tari kreasi yang lahir pada 1987.

Karya ini mengisahkan sekelompok pemuda yang terikat dalam semangat organisasi, kebersamaan, dan persaudaraan.

Melalui komposisi gerak yang dinamis dan serempak, tarian tersebut merepresentasikan semangat generasi muda dalam membangun solidaritas.

Sekaligus, menjaga warisan estetika Tari Bangdu yang menjadi sumber inspirasi utama penciptaannya.

Pada sajian pamungkas ini, kedua duta seni kembali menampilkan karya monumental bernuansa magis yang mendapat apresiasi meriah dari penonton.

Bangli mempersembahkan garapan Merujaklalang, sebuah interpretasi artistik atas ritus sakral masyarakat Desa Songan yang menjadi bagian penting dalam rangkaian upacara pengabenan sekaligus identitas budaya desa Bali Aga tersebut.

Pertunjukan menampilkan prosesi perebutan rumput ilalang sebagai simbol penyucian yang dikemas melalui tata gerak maskulin, dinamika gong kebyar, serta ritme dramatik.

Simbol perebutan ‘rujak’ dimaknai sebagai penghancuran ego jasmani menuju pemurnian jiwa, sebelum bermuara pada sukacita sebagai lambang keikhlasan menerima kematian sebagai proses transformasi spiritual.

Adapun Duta Kota Denpasar menutup penampilannya melalui fragmentari Tamtam, yang mengangkat kisah spiritual dua atma, Gina dan Gidul.

Dalam cerita tersebut, Gidul bereinkarnasi menjadi pengembara suci bernama Tamtam, murid Aji Saka dari Pulau Jawa, sementara Gina bereinkarnasi menjadi Dewi Aryeswara di Kerajaan Mesir.

Pertemuan keduanya bermula dari sebuah sayembara. Namun, berkembang menjadi perjalanan spiritual menuju penyatuan nilai-nilai Siwa-Buddha.

Melalui alur dramatik yang sarat pesan filosofis, fragmentari ini menegaskan bahwa perjalanan hidup manusia pada akhirnya merupakan proses penyucian diri melalui pemahaman, penghayatan, dan pengamalan ajaran dharma hingga mencapai pelepasan menuju swargaloka.

Gubernur Koster sendiri mengapresiasi Parade Gong Kebyar Dewasa malam itu yang kembali menunjukkan bahwa Pesta Kesenian Bali tidak hanya menjadi ruang apresiasi seni pertunjukan.

“Tapi juga wahana pelestarian nilai-nilai spiritual, sejarah, dan identitas budaya Bali yang terus diwariskan kepada generasi berikutnya melalui karya-karya kreatif berakar kuat pada tradisi. (*)