KORANJURI.COM – Kantor Perwakilan wilayah Bank Indonesia (KPwBI) Bali memperkirakan, perekonomian Bali tetap tumbuh kuat pada kisaran 5,4%–5,9%.
Namun, pertumbuhan itulah masih menyisakan tantangan fundamental yang memerlukan perhatian.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Achris Sarwani mengatakan, Bali masih bergantung pada sektor pariwisata. Menurutnya, pariwisata merupakan sektor tersier yang rentan terhadap gejolak eksternal.
“Konsentrasi investasi dan aktivitas ekonomi yang masih didominasi wilayah Bali Selatan,” kata Achris dalam Forum Balinomics 2026 di Badung.
Namun, kata Achris, Bali memiliki visi sustainable seabad pembangunan Bali. Roadmap itu menjabarkan posisi pariwisata untuk Bali dan bukan Bali untuk pariwisata.
Dengan demikian, alam dan budaya bali akan terus tetap tumbuh.
“Visi roadmap Bali 100 tahun ke depan mengindikasikan upaya preventif terutama untuk pariwisata,” jelasnya.
Koordinator Kelompok Ahli Bidang Pembangunan Pemerintah Provinsi Bali I Made Damriyasa menambahkan, transformasi ekonomi pascapandemi menuntut keterhubungan antar sektor.
Sektor yang cukup kuat untuk menopang pertumbuhan ekonomi di antaranya, pertanian, kelautan/perikanan, industri manufaktur, IKM/UMKM/koperasi, ekonomi kreatif & digital, serta pariwisata.
“Yang dibangun bukan sekedar diversifikasi sektor, tapi keterhubungan antar sektor,” kata Damriyasa.
Sementara, Ketua PHRI Bali Cokorda Oka Artha Ardana Sukawati atau Cok Ace mengatakan, menjelang 100 tahun pariwisata Bali perlu ada perenungan tentang perjalanan dan peristiwa yang mengiringi Bali sebagai destinasi global.
Pariwisata Bali era sekarang menurut Cok Ace bergeser dari kebudayaan yang sakral menjadi komersial. Khususnya, kesenian tari sakral seperti tarian Barong yang saat ini dipaksa untuk pentas di lobi hotel.
“Bagaimana tarian Sanghyang yang sakral harus dipura-pura sakralkan hanya untuk mengejar pariwisata. Tidak ada lagi sakarang karang kekeran, tidak ada lagi batas desa, semua dilabrak untuk pariwisata,” kata Cok Ace.
Ia menambahkan, eksploitasi alam Bali sudah sangat berlebihan. Termasuk alih fungsi lahan. Daya tampung pariwisata Bali saat ini mengalami over concentrate bukan over tourism. Pasalnya, pariwisata berkembang tidak mengikuti pasar.
Menurut Cok Ace, masa depan pariwisata Bali, tidak ditentukan oleh berapa banyak wisatawan yang datang. Namun, ditentukan oleh berapa besar nilai yang diciptakan dari setiap wisatawan.
Termasuk, berapa besar manfaat yang dirasakan masyarakat, berapa banyak UMKM yang naik kelas, berapa banyak lapangan kerja yang tercipta dan seberapa baik menjaga alam dan budaya Bali. (Way)
