Barong Menari di Lobi, Semua Dilabrak untuk Pariwisata

oleh
Ketua PHRI Bali Cokorda Oka Artha Ardana Sukawati menjadi keynote speaker dalam forum Balinomic yang diselenggarakan Kantor wilayah Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Rabu (9/9/2026) - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Menjelang 100 tahun pariwisata Bali perlu ada perenungan tentang perjalanan dan peristiwa yang mengiringi Bali sebagai destinasi global.

Secara kontemplatif, Ketua PHRI Bali Cokorda Oka Artha Ardana Sukawati atau Cok Ace mengungkapkan, sejak kelahiran pariwisata bali di tahun 1927, perubahan terus terjadi. Sosok pertama yang memperkenalkan Bali adalah pelukis asal Jerman Walter Spies.

Dampaknya, dunia mulai melirik Bali dan warga dunia juga ingin melihat Bali. Presiden Sukarno menginisiasi pembangunan bandara Bali di tahun 1961.

Meski sempat terjadi penolakan oleh warga, namun pada perjalanannya, kata Cok Ace, Bandara Ngurah Rai diresmikan pada tahun 1969.

Sejak saat itu, wisman Australia mulai berkunjung ke Bali dengan gaya berwisata secara hippies atau backpacker di masa sekarang.

“Wisatawan Australia saat itu datang untuk budaya dan orang-orang di Bali. Kehadiran para hippies memicu kekhawatiran akan mengganggu budaya Bali,” kata Cok Ace

Kemudian, Pemerintah Daerah menetapkan Perda Provinsi Bali tahun 1973 tentang pariwisata Bali berbasis budaya.

“Itu Perda yang tidak pernah berubah sampai sekarang. Ini yang harus kita pertahankan,” ujarnya.

Di tahun 1977, perubahan pariwisata terjadi secara masif hingga sekarang. Ditandai dengan listrik masuk desa dan pembangunan destinasi pariwisata di Nusa Dua

Di tahun-tahun tersebut, kata Cok Ace, menjadi kesempatan luar biasa turis asing berlibur ke Bali.

“Harga all in sangat rendah dengan Rp11.880 per orang dapat menikmati empat hari tiga malam di Bali. Kemudian, dengan Rp13.800 per orang turis dapat menginap lima hari empat malam,” kata Cok Ace dalam Balinomic Bank Indonesia, Rabu (9/9/2026).

Cok Ace menambahkan, harga tersebut sudah termasuk penerbangan pulang pergi dengan maskapai Garuda.

Wisman juga mendapatkan penginapan di Hotel Bali Beach, yang saat itu bergelar ultra modern, lengkap 3 kali makan setiap hari. Termasuk, mengunjungi obyek wisata yang ada di Bali saat itu.

“Perkembangan itu mencapai puncaknya di tahun 1990 an. Saat itu, Bali ada di persimpangan jalan. Beberapa peristiwa juga mewarnai puncak pariwisata Bali seperti Bom Bali dan pandemi covid-19,” kata Cok Ace.

Pariwisata Bali era sekarang menurut Cok Ace bergeser dari kebudayaan yang sakral menjadi komersial. Khususnya, kesenian tari sakral seperti tarian Barong yang saat ini dipaksa untuk pentas di lobi hotel.

“Bagaimana tarian Sanghyang yang sakral harus dipura-pura sakralkan hanya untuk mengejar pariwisata. Tidak ada lagi sakarang karang kekeran, tidak ada lagi batas desa, semua dilabrak untuk pariwisata,” kata Cok Ace.

Ia menambahkan, eksploitasi alam Bali sudah sangat berlebihan. Termasuk alih fungsi lahan. Daya tampung pariwisata Bali saat ini mengalami over concentrate bukan over tourism. Pasalnya, pariwisata berkembang tidak mengikuti pasar.

“Maka timbulah macet, timbulah sampah. Menjelang seratus tahun pariwisata Bali kita merenung apa yang harus kita transformasikan,” ujarnya.

Menurut Cok Ace, masa depan pariwisata Bali, tidak ditentukan oleh berapa banyak wisatawan yang datang. Namun, ditentukan oleh berapa besar nilai yang diciptakan dari setiap wisatawan.

Termasuk, berapa besar manfaat yang dirasakan masyarakat, berapa banyak UMKM yang naik kelas, berapa banyak lapangan kerja yang tercipta dan seberapa baik menjaga alam dan budaya Bali. (Way)