KORANJURI.COM – Curah hujan tinggi dalam tiga hari terakhir membuat tinggi muka air di Tukad Badung mengalami peningkatan drastis.
BPBD Bali memantau, kenaikan muka air Tukad Badung dipicu dari akumulasi hujan sangat lebat.
Dalam tiga hari terakhir, hampir di seluruh wilayah Bali dilanda cuaca ekstrem dengan curah hujan yang cukup tinggi.
Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Bali I Gede Agung Teja Bhusana Yadnya mengatakan, ketinggian air Tukad Badung di kawasan Pasar Badung mulai mengalami peningkatan pada Selasa (24/2/2026) sekitar pukul 03.00 WITA.
“Tinggi muka air meningkat ±50 cm di atas normal, sirine berbunyi dengan status Waspada,” kata Gede Agung Teja.
BPBD Bali mencatat, pada pukul 04.00 WITA, tinggi muka air semakin meningkat ±120 cm di atas normal. Sirine peringatan kembali berbunyi dengan status Siaga.
Pukul 08.24 WITA, sirine status siaga kembali berbunyi. Tinggi muka air tetap berada ±120 cm di atas normal.
Pukul 09.26 WITA, sirine kembali berbunyi dengan status Siaga sebagai respons atas fluktuasi tinggi muka air yang terus meningkat.
“Fluktuasi tinggi muka air tersebut dipengaruhi oleh intensitas hujan yang masih terjadi di wilayah hulu,” ujarnya.
Pihaknya terus melakukan pemantauan secara intensif meski tinggi muka air berangsur menurun. Personel lapangan tetap disiagakan di lokasi.
“Pada sebagian besar lokasi terdampak, volume sampah yang menyertai kejadian banjir relatif sangat kecil. Masyarakat mulai sadar menjaga kebersihan lingkungannya,” jelasnya.
Sementara, akibat cuaca ekstrem di Bali, BPBD mencatat 76 kejadian bencana hidrometeorologi pada Selasa, 24 Februari 2026.
Sebaran kejadian didominasi di Kota Denpasar 36 titik, Kabupaten Badung 12 titik, Kabupaten Karangasem 12 titik, Kabupaten Gianyar 5 titik, Kabupaten Tabanan 5 titik, Kabupaten Buleleng 4 titik, Kabupaten Klungkung 1 titik dan Kabupaten Jembrana 1 titik. (Way)





