KORANJURI.COM – Festival Literasi Kabupaten Purworejo Tahun 2026 resmi dibuka dengan target menyedot hingga 3 ribu pengunjung guna mendongkrak kembali indeks literasi dan membangkitkan semangat membaca masyarakat di tengah era digital.
Ajang yang diinisiasi oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dinpusip) Kabupaten Purworejo ini dilangsungkan selama 11 hari, terhitung mulai Jum’at (14/08/2026) hingga Senin (24/08/ 2026), di halaman Perpustakaan Umum Kabupaten Purworejo.
Mengusung tema “Semarak Literasi”, kegiatan ini menjadi langkah strategis pemerintah daerah dalam merespons penyesuaian metodologi nasional penilikan literasi sekaligus memperkuat sinergi lintas sektoral.
Wakil Bupati Purworejo, Dion Agasi Setiabudi, dalam sambutannya saat membuka acara pada Jumat (14/08/2026), menekankan pentingnya menumbuhkan budaya bertanya dan rasa penasaran (curious) bagi generasi muda sebagai fondasi utama kemajuan peradaban.
“Minat baca anak-anak perlu didorong secara kolektif, baik melalui peran aktif orang tua di lingkungan keluarga maupun keteladanan para guru di sekolah,” ujar Dion.
Senada dengan hal tersebut, Kepala Dinpusip Kabupaten Purworejo, Stefanus Aan Isa Nugraha, menjelaskan bahwa penyesuaian metode penghitungan oleh Perpustakaan Nasional pada tahun 2025 sempat mengoreksi angka Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) dan Tingkat Kegemaran Membaca (TKM) Purworejo.
“IPLM Purworejo tahun 2025 berada di angka 9,36 dan masuk kategori rendah, di mana sebelumnya pada tahun 2024 mencapai 78,32. Hal ini terjadi karena cara penghitungan dari Perpusnas yang berbeda. Demikian pula Tingkat Kegemaran Membaca (TKM) yang terkoreksi ke angka 56,83,” ujar Aan.
Oleh karena itu, menurut Aan, Festival Literasi ini menjadi upaya bersama untuk mengampanyekan gerakan literasi masyarakat.
Melalui festival ini, Dinpusip berupaya keras mengembalikan antusiasme publik melalui berbagai rangkaian acara edukatif dan inspiratif.
Berbagai agenda menarik telah disiapkan untuk memikat pengunjung, mulai dari pameran buku (book fair), pameran UMKM dan seni rupa, pameran Perpustakaan Desa, hingga talkshow bersama penulis buku bestseller.
Salah satu agenda unggulan yang turut menyita perhatian adalah seminar sejarah lokal mengenai naskah kuno Babad Kedung Kebo karya Bupati Purworejo pertama, Raden Adipati Aryo Cokronegoro I, yang ditulis pada periode 1842–1843.
Selain pameran dan pementasan, pembukaan festival ini juga dirangkaikan dengan pengukuhan 16 Bunda Literasi Kecamatan oleh Bunda Literasi Kabupaten Purworejo, Raja Thifal Mazaya Izzati.
Kehadiran para Bunda Literasi ini diharapkan mampu memperluas jangkauan gerakan membaca hingga ke akar rumput.
Dalam kesempatan yang sama, Dinpusip turut meluncurkan inovasi terbaru bertajuk Gema Sebuku (Gerakan Membaca Satu Bulan Satu Buku).
Program ini mewajibkan siswa membaca dan menukarkan buku nonpelajaran setiap bulan dengan pendampingan orang tua serta guru, guna melatih rasa tanggung jawab, kemampuan meresensi, sekaligus menumbuhkan empati sosial anak-anak.
“Melalui kolaborasi erat antara pemerintah, sekolah, keluarga, dan komunitas, Festival Literasi 2026 diharapkan mampu membangun ekosistem literasi yang berkelanjutan demi masa depan pendidikan Purworejo yang lebih gemilang,” terang Aan.
Dalam pembukaan Festival Literasi 2026 ini juga dihadiri Bunda Literasi Provinsi Jateng yang diwakili Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Jateng Rahmah Nur Hayati, jajaran Forkopimpda dan Forkompimcam Kutoarjo, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, korwilcambidik se Purworejo, Bunda Literasi Kecamatan se Purworejo, serta sejumlah tamu undangan lainnya.(Jon)





