Dirjenpas: Produk UMKM Lapas Tembus Pasar 24 Negara Eropa dan Asia

oleh
Direktur Jenderal Pemasyarakatan Mashudi - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Pengembangan UMKM di dalam lapas memiliki potensi besar. Namun, selama ini belum dikelola melalui sistem yang saling menopang.

Direktur Jenderal Pemasyarakatan Mashudi mengungkap, salah satu UMKM yang memproduksi kandang baterai ayam petelur di Lapas Narkotika Kelas IIA Gunung Sindur, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Dirinya mengatakan, sudah saatnya UMKM itu terhubung dengan jejaring distribusi antar-lembaga pemasyarakatan.

“Ini harus terhubung. Produksi di satu tempat harus diserap oleh yang lain. Kalau itu berjalan, perputaran ekonomi antar-lapas akan hidup,” kata Mashudi di Lapas Gunung Sindur, Sabtu (21/3/2026).

Ia meminta seluruh Unit Pelaksana Teknis yang memiliki usaha peternakan ayam petelur, memprioritaskan penggunaan kandang produksi Gunung Sindur.

Mashudi menilai, persoalan utama bukan pada kapasitas produksi, tapi pada distribusi dan pemasaran. Ia mendorong adanya sinkronisasi kebutuhan antar-UPT agar tercipta ekosistem ekonomi internal yang stabil.

Produk warga binaan itu juga telah menembus pasar internasional. Cocopeat, sapu lidi, batik, tenun, hingga furnitur telah diekspor ke 24 negara di Eropa dan Asia. Namun, penguatan sistem harus dilakukan agar ekspor tidak bersifat sporadis.

“Harus ada pengaturan. Wilayah tertentu mengambil beras dari sini, telur dari sini, tempe dari sini. Kalau rantai ini terbentuk, ekonominya akan bergerak,” ujarnya.

Ia juga menyoroti perlunya spesialisasi produksi. Sehingga, setiap lapas memiliki identitas usaha yang jelas dan tidak berubah ketika terjadi pergantian pimpinan.

“Kita harus punya fokus. Ada yang khusus cocopeat, ada yang sapu lidi, jadi berkelanjutan,” jelasnya.

Kepala Lapas Narkotika Kelas IIA Gunung Sindur Bambang Wijanarko mengatakan, permintaan terhadap kandang baterai ayam petelur melampaui kapasitas produksi.

Untuk memenuhi kebutuhan lima lapas saja, diperlukan sekitar 30 ton. Sedangkan, produksi belum mencukupi.

Menurutnya, satu set kandang dijual sekitar Rp125 ribu, dengan kualitas yang dinilai mampu bersaing di pasar.

“Permintaan tinggi, tapi produksi kami masih terbatas,” ujar Bambang.

Dalam rencana ke depan, Ditjenpas saat ini telah menyiapkan pengembangan lapas terbuka sebagai pusat produksi skala besar. Salah satunya berada di Kendal, Jawa Tengah.

Dengan lahan sekitar 110 hektar, Lapas terbuka Kendal, fokus pada sektor perikanan dan pertanian terpadu. Model serupa direncanakan diterapkan di daerah lain secara bertahap. (Thalib)