KORANJURI.COM – Ketertarikan minat pembaca untuk berita di Bali dalam sepekan ini merujuk pada berita tentang Museum Majapahit yang ada di Tanah Lot, Tabanan.
Selain itu, pembaca juga tertarik dengan informasi yang berkaitan dengan seni, pameran dan lukisan.
Ketertarikan pembaca tercermin dari dua topik artikel direkomendasikan dalam tampilan google discover dalam sepekan terakhir.
Dari destinasi wisata Tanah Lot, saat ini berdiri museum baru yang menghadirkan keagungan sejarah dengan pesona wisata religi. Dua segmen kebudayaan menjadi titik temu perjalanan sejarah nusantara.
Artikel Terkait
Keseruan Menjelajah Lorong Waktu di Museum Majapahit, Destinasi Wisata Baru di Tanah Lot
Museum Moderen
Wahana rekreasi itu diresmikan 15 November 2025 dan lokasinya berada di areal parkir destinasi wisata Tanah Lot. Museum Majapahit Tanah Lot dirancang lebih moderen dengan melibatkan teknologi augmented reality.
Di dalam gedung budaya yang menghidupkan kejayaan nusantara itu, tersimpan beragam benda bersejarah autentik yang langsung di dapat dari Ibukota Majapahit di Trowulan, Jawa Timur.
Benda bersejarah yang ada berupa arca sakral, pusaka serta artefak kuno dan uang asli pada masa itu.
Tidak itu saja, di dalam museum juga disiapkan spot foto menarik yang menggabungkan keindahan artistik, nuansa sejarah dan estetika moderen.
“Ke depan kami tambah dengan teknologi 3D sehingga pengunjung dapat merasakan kondisi pada masa itu dengan bantuan teknologi digital,” kata Direktur utama museum Majapahit Tanah Lot Bali I Gusti Made Suryantha Putra.
Artikel Terkait
Pameran Tunggal Divergent Mind, Otoritas Perupa I Made Rommy Keluar dari Proses Kelaziman
Pameran Kebebasan Ekspresi
Gaya visual asimetris yang ditampilkan pelukis I Made Rommy Sukadana, justru menjadi identitas berbeda yang secara berani mendobrak kebiasaan para perupa.
Dalam pameran tunggal ‘Divergent Mind’ di Santrian Gallery, Denpasar, pelukis asal Denpasar itu, memberikan pandangan, perubahan itulah yang akhirnya menjadi keabadian.
“Pameran ini menjadi semacam pengakuan diri yang menegaskan kebebasan dalam membuat karya. Dari 24 karya yang saya pamerkan, saya gunakan teknik yang berubah-ubah,” kata Rommy.
Menurutnya, seni tidak harus linier dan stabil. Seniman punya otoritas penuh dengan karya-karyanya. Ukuran pencapaian menurutnya bukan pada kelaziman dan kebiasaan yang dilakukan oleh setiap seniman. (Way)


