KORANJURI.COM – Perbincangan sepenanakan nasi Dahlan Iskan ‘menguliti’ dunia wartawan, kewartawanan dan media. Perbincangan yang cukup singkat sebenarnya, namun isinya ‘daging’ semua, menelikung sisi lain profesi wartawan.
Pernyataan pertama Dahlan Iskan, “Mulai Pikirkan Berhenti Jadi Wartawan”. Dia melanjutkan, apakah 5 tahun, 10 tahun cukup menjadi seorang pemburu berita? Atau apakah akan selamanya jadi kuli informasi?
Dari rangkuman perbincangan sosok yang sekarang sudah jadi mantan CEO Jawa Pos dan Jawa Pos Group ini memberikan penegasan bahwa, era digital jadi tantangan sendiri bagi wartawan.
Meski, tokoh pers yang juga pendiri media siber disway.id ini mengakui tidak bisa menjawab pertanyaan itu secara pasti. Dirinya memberikan alasan, perubahan era digital ini terlampau jauh untuk diikuti orang seusia dirinya, yang saat ini menginjak 73 tahun.
Namun, ia mengembalikan pertanyaan itu kepada para wartawan yang hadir di acara Ngeraos Sareng Media x Media Gathering yang digelar Kantor Perwakilan wilayah Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Bali, di Nusa Lembongan, Kamis, 12 September 2024.
“Tapi pilih mana jadi wartawan online milik sendiri atau jadi wartawan di media online orang lain,” kata Dahlan Iskan.
Pilihan itu menurutnya, tetap punya konsekuensi. Dia mengatakan, saat ini banyak media besar runtuh, sedangkan untuk bernaung menjadi wartawan di media besar juga tidak bisa diharapkan. Sementara, media online belum menjanjikan penghasilan yang baik.
“Kalau tidak ada yang sepakat dengan saya, bisa maju ke sini, kita berdebat,” ujarnya.
Ia memberikan contoh, di masa kejayaan media mainstream, sebut Dahlan, penghasilan Jawa Pos, Rp 100 miliar per bulan. Tapi, sekarang tidak begitu lagi. Dengan perubahan yang terjadi, di mana media online tumbuh subur dan menjamur akan terjadi pemerataan.
Pilihan itu menurutnya yang terlihat terjadi di jaman ini. Era digital memberikan peluang kepada wartawan untuk menjadi enterpreuner. Dahlan Iskan sendiri selalu menekankan, wartawan di bawah naungan perusahan media yang dia kelola selalu didorong untuk menjadi wirausahawan.
“Ini Jawa Pos kehilangan karena munculnya ratusan media online, tetapi kue Rp 100 miliar itu bisa dibagi ke ratusan media yang menjadi milik anda,” kata Dahlan Iskan. (Way)




