Tari Bali hingga Antrabez Sukses Buka World Congress on Probation and Parole di Nusa Dua

oleh
Penampilan warga binaan pemasyarakatan (WBP) di Bali dalam pembukaan 7th World Congress on Probation and Parole (WCPP) di Nusa Dua, Bali, Selasa, 14 April 2026 - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Kreatifitas yang ditampilkan warga binaan pemasyarakatan di Bali sukses mengemas konsep event internasional 7th World Congress on Probation and Parole (WCPP).

Dalam event dua tahunan, Indonesia menjadi tuan rumah dan berlangsung di Bali Internasional Convention Center (BICC) Nusa Dua, Bali, 14-17 April 2026.

Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Agus Andriyanto mengatakan, seluruh rangkaian kegiatan mulai dari persiapan, dekorasi hingga pengisi acara dilakukan oleh warga binaan pemasyarakatan.

“Karya dan produk kreatif warga binaan juga dipamerkan dalam acara ini. Mudah-mudahan nanti para peserta tertarik dan membeli produk mereka,” kata Agus di Nusa Dua, Bali, Selasa, 14 April 2026.

Dalam event itu, warga binaan yang dilibatkan berasal dari Lapas Perempuan Kelas IIA Kerobokan sebanyak 27 orang. Mereka menampilkan tari-tarian khas Bali dan 5 orang mengisi backing vokal dari band Antrabez (Anak Terali Besi) binaan Lapas Kelas IIA Kerobokan.

“Melalui pembimbingan Balai Pemasyarakatan, kita ingin membantu warga binaan kembali ke masyarakat dan mencegah mereka mengulangi kesalahan. Pendekatan pemidanaan tidak harus selalu berakhir di penjara,” kata Agus Andriyanto.

Kongres Balai Pemasyarakatan dunia di Bali ini diikuti 44 negara, dengan jumlah peserta mencapai lebih dari 400 orang.

Menurut Agus, kongres yang digelar bertujuan untuk mewujudkan masyarakat yang lebih aman melalui pendekatan pemidanaan yang lebih berorientasi pada pemulihan.

“Apa yang ditampilkan dalam pembukaan Kongres tadi merupakan salah satu pembinaan kami di Lapas secara kontinu dan berkelanjutan,” ujarnya.

Sementara, Direktur Jenderal Pemasyarakatan Mashudi mengatakan, kongres di Bali diisi berbagai agenda strategis pertukaran informasi dan kebijakan antar negara.

Ia melihat, antusiasme peserta menandakan masyarakat belajar banyak akan pentingnya pemidanaan yang tidak selalu berakhir di penjara.

“Sesi pleno dan diskusi tematik yang berlangsung menjadi ruang strategis bagi para praktisi dan akademisi dari berbagai negara untuk merumuskan arah kebijakan, tantangan, serta inovasi dalam sistem probation dan parole atau pembinaan pemasyarakatan,” jelasnya.

World Congress on Probation and Parole telah berlangsung di berbagai negara di antaranya, London-Inggris (2013), Los Angeles-Amerika Serikat (2015), Tokyo-Jepang (2017), Sydney-Australia (2019), Ottawa-Kanada (2022) dan Bali-Indonesia (2026). Untuk Kongres berikutnya atau WCPP Ke-8 akan berlangsung di Latvia-Eropa Utara. (Way)