KORANJURI.COM – SMK Dwijendra kembali menerima pelajar asing dalam program pertukaran pelajar dengan negeri Belanda. Dua siswa itu akan belajar tentang kebudayaan selama 3,5 bulan berada di Bali.
Kedua siswa itu yakni, Luc Van Leengoed (19) dan Justin Lohman (21). Di negara asalnya kedua pelajar itu menimba ilmu di Zoomvliet College The Netherlands. Kepala SMK Dwijendra Ida Bagus Dwi Oka Putra menjelaskan, pertukaran pelajar itu sudah dilakukan sejak 2 tahun lalu.
Dalam setiap program pertukaran pelajar, masing-masing sekolah mengirimkan dua orang siswanya untuk belajar di institusi masing-masing.
“Mereka akan belajar tentang budaya dan bagaimana kultur Bali dibangun. Kita akan libatkan dalam setiap kegiatan budaya, termasuk mengenakan baju adat secara rutin setiap hari Kamis,” jelas Dwi Oka Putra, Senin, 4 Februari 2019.
Menurutnya, pertukaran pelajar tersebut akan berdampak pada siswanya sendiri. Karena secara tidak langsung, para siswanya dapat praktek berbahasa Inggris secara langsung. Pihaknya juga akan mengirimkan dua orang pelajar ke Zoomvliet University untuk belajar disana.
“Rencananya kita juga akan mengirim pelajar ke sana dengan bekerjasama bersama orang tua siswa. Pihak sekolah menanggung tiketnya dan di Belanda ada orangtua asuh yang akan menampungnya,” jelas Dwi Oka Putra.
Luc dan Justin telah mengikuti pembelajaran di SMK Dwijendra sejak 28 Januari 2019 lalu. Keduanya mengaku sangat terkesan dengan Bali. Seperti pengakuan Luc, dirinya merasa sangat dekat dengan masyarakat di Bali yang terbuka dengan semua orang.
Ia juga mengaku ada perbedaan yang mencolok terkait kostum adat yang dikenakan di setiap pelajar di Bali pada setiap kegiatan Bulan Tilem dan Hari Kamis sebagai implementasi dari Pergub Bali Nomor 79 tahun 2018 tentang hari penggunaan busana adat Bali secara serentak di seluruh Bali.
“Saya melihat ada yang berbeda dengan seragam disini, tapi itu sangat menarik buat saya dapat melihat hal yang berbeda yang hanya saya dapati di Bali,” jelas Luc Van Leengoed yang juga penggemar tim lapangan hijau Bali United ini.
Sementara, rekan satu universitasnya, Justin Lohman mengatakan hal yang sama. Ia mengaku harus belajar cepat dan beradaptasi dengan lingkungan baru.
“Kami tinggal di Kuta, dan ketika sudah berbaur dengan masyarakat, kami harus bisa cepat menyesuaikan,” ujar Justin. (Way)





