Sering Makan Korban Bundir, Ritual Parisudha Jagat Digelar di Jembatan Tukad Bangkung

oleh
Upacara Parisudha Jagat di Tukad Bangkung di Desa Plaga, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung, Kamis (18/12/2025)

Disclaimer:
Berita ini ditulis bukan untuk menginspirasi tindakan bunuh diri. Pembaca yang merasa memerlukan layanan konsultasi masalah kejiwaan, terlebih pernah terbersit keinginan melakukan percobaan bunuh diri, jangan ragu bercerita, konsultasi atau memeriksakan diri ke psikiater di rumah sakit yang memiliki fasilitas layanan kesehatan jiwa.

KORANJURI.COM – Ikhtiar spiritual digelar di Jembatan Tukad Bangkung, Desa Plaga, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung. Upaya melalui upacara ritual ditempuh untuk mengurangi niat orang bertindak nekad mengakhiri hidup.

Upacara yang dipimpin oleh Jro Mangku Gede Made Pawitra itu, diinisiasi oleh Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta dan Ketua TP PKK Provinsi Bali Putri Suastini Koster, Kamis (18/12/2025).

Nyoman Giri Prasta mengatakan, fenomena bunuh diri di Jembatan Tukad Bangkung, tidak hanya dipahami secara logika dan faktor fisik semata.

“Upaya spiritual penting dilakukan untuk memberikan keseimbangan. Selama ini mungkin kita melupakan hubungan manusia dengan alam sebagai ibu kehidupan,” kata Giri Prasta.

Rangkaian Upacara Parisudha Jagat berlangsung sangat khidmat. Dalam prosesi yang berlangsung, dilakukan pelepasan simbol simbol kehidupan berupa dua ekor kebo putih lanang wadon.

Prosesi dilanjutkan dengan pelepasan burung dan lampion, masing-masing sebanyak 33 buah. Pelepasan burung dilakukan oleh para tamu undangan di pintu masuk Jembatan Tukad Bangkung.

Angka 33 bermakna keseimbangan dan penyucian. Sekaligus, menjadi doa untuk kehidupan agar kembali menemukan jalannya.

Upacara Parisudha Jagat di Jembatan Tukad Bangkung menjadi pengingat, bahwa persoalan bunuh diri tidak hanya memerlukan pendekatan medis, sosial, dan keamanan. Tapi juga pendekatan spiritual dan kultural yang menyentuh akar kesadaran manusia Bali.

“Jembatan Tukad Bangkung ini menghubungkan Kabupaten Badung, Bangli, hingga Buleleng. Setelah ini, diharapkan kembali normal secara sakala dan niskala.

Kepercayaan lokal menyebut, Jembatan Tukad Bangkung sebagai wilayah kerajaan wong samar atau lelembut. Selain itu, saat pembangunan permohonan secara spiritual belum sepenuhnya dilakukan.

Dengan demikian, terjadi ketidakseimbangan energi yang dipercaya memengaruhi kondisi alam sekitarnya. Termasuk, mempengaruhi psikologis orang-orang tertentu.

Hal itu menyebabkan, Tukad Bangkung memiliki beban niskala tak kasat mata, akibat ketidakharmonisan hubungan manusia dengan alam dan ruang sakral.

Sepanjang tahun 2025, peristiwa bunuh diri banyak terjadi di Tukad Bangkung. Terakhir, seorang perempuan berinisial NKPA (39) nyaris kehilangan nyawa. Namun aksi nekad itu berhasil digagalkan warga. (Way)