Program Perubahan Paslon AMERTA

    


Gede Ngurah Ambara Putra (tengah) membuka Lomba Utsawa Dharma Gita tingkat Kota Denpasar di kantor PT Dirgahayu Ambara Swari. Lomba digelar melalui aplikasi Zello - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Pasangan Calon Walikota dan Wakil Walikota Denpasar (AMERTA) nomor urut 2, I Gede Ngurah Ambara Putra dan Made Bagus Kertha Negara mengatakan bahwa masyarakat Kota Denpasar saat ini menginginkan perubahan, baik itu kemudahan dalam mencari pekerjaan, perbaikan fasilitas umum, kesehatan, dan pendidikan.

Untuk itu, Paslon AMERTA akan bersinergi dengan seluruh stakeholder yang ada dalam mewujudkan keinginan tersebut. Ngurah Ambara menegaskan, Paslon Amerta bakal mengandeng pihak swasta dalam membangun Ibukota Provinsi Bali ini.

“Ini artinya masyarakat ingin perubahan. Paslon nomor urut 2 adalah jawaban dengan program AMERTA Berseri, smart city, dan berdaya saing. Dengan digitalisasi PAD kita tidak akan bocor,” ungkap Ngurah Ambara saat pembekalan saksi NasDem di Denpasar Selatan, Sabtu (7/11/2020) malam.

Terkait lapangan kerja, menurutnya harus ada stimulus jangka menengah dan jangka panjang. Managemen resiko harus ada, masyarakat punya jaminan sosial. Sehingga pembayar pajak bisa tahu pemanfaatan pajaknya untuk pembangunan.

“Revolusi industri harus bisa menjadi peluang dalam meningkatkan kemandirian ekonomi. Daya saing harus diukur, dengan meningkatkan produktifitas,” ujarnya.

Dibidang pendidikan dan kesehatan, pihaknya akan memanfaatkan dana CSR dalam menciptakan sumber daya manusia (SDM). Yakni dengan memberikan beasiswa hingga ke jenjang perguruan tinggi.

Sedangkan dibidang kesehatan, pihaknya bakal memberikan tunjangan yang dimulai dari persalinan hingga membangun Puskesmas yang dilengkapi dengan rawat inap.

Sementara itu, Calon Wakil Walikota Bagus Kertha Negara mengatakan Paslon AMERTA berangkat dari pengusaha. Kota Denpasar punya aset yang luar biasa, namun belum dikelalo secata maksimal.

“Kami turun ke pasar adat setiap hari menyerap aspirasi. Pasar adat yang dikelola desa adat bisa hasilkan provit Rp 300 hingga Rp 400 juta per tahun. Sementara pasar yang dikelola Perusda yang berjumlah 16 unit belum bisa menyetorkan hasil yang maksimal,” paparnya. (Way)