Seorang tokoh masyarakat setempat Made Widiana mengungkapkan, upacara Nyegara Gunung menjadi tahapan puncak dari prosesi yang telah berlangsung selama 25 tahun sekali.
Menurutnya, rangkaiannya akan disusul dengan upacara 50 tahunan sampai 100 tahunan. Dalam upacara itu, berbagai sesajian persembahan dilarung ke tengah lautan. Nyegara Gunung sendiri berarti, pertemuan antara gunung dan lautan sebagai satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan.
“Upacara tersebut mempunyai makna penyucian roh leluhur dengan tujuh mata air,” kata Made Widiana.
Dari tujuh mata air itu, semuanya akan bermuara ke laut. Di situlah makna Nyegara Gunung yang lokasi upacaranya mengambil diantara pertemuan gunung dan laut. Mata air berada di dalam perut gunung, sedangkan muaranya berada di laut.
“Jadi setiap acara Nyegara Gunung lokasinya pasti berada diantara pertemuan gunung dan laut,” ujarnya.
Dalam pelaksanaannya, upacara Nyegara Gunung itu hanya dilakukan oleh warga yang berada atau tinggal di dekat pura. Pada saat itu, segala sesajen berupa jajanan dan hasil bumi serta air dilabuhkan menjelang petang hari. Perlengkapan sesajen itu diletakkan di atas tampah dengan berbagai ukuran.
Widiana mengatakan, prosesi itu sakral. Terutama, ketika melabuhkan sesajian ke tengah lautan. Saat prosesi itu berlangsung, kata Widiana, ombak besar akan terjadi. Masyarakat setempat meyakin, adanya ombak besar berarti sesembahan mereka diterima oleh Dewa Baruna yang merupakan penguasa laut.
Saat pelaksanaan upacara Nyegara Gunung, ada larangan untuk wisatawan asing yang berjemur atau melakukan surfing untuk sementara menghentikan aktifitasnya. Hal itu juga sebagai bentuk penghormatan terhadap upacara tradisi yang berlangsung.
“Karena saat itu ombaknya cukup besar meski tidak berlangsung lama, asal sesajinya sudah sampai ke laut, ombaknya akan normal seperti biasa,” kata Widiana. (Way)
