KORANJURI.COM-Pendidikan tidak hanya memiliki peran penting di dalam mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara, akan tetapi lebih dari itu, dunia Pendidikan juga memiliki peran di dalam membentuk karakter dan jatidiri masyarakat sebuah bangsa.
Pasalnya dunia Pendidikan adalah tempat kedua setelah keluarga bagi pembentuk pola pikir, mental dan emosional.
Oleh sebab itu Pendidikan yang baik tidak hanya mengedepankan pembangunan intelektual saja, tetapi emosional dan spiritual juga harus di bangun secara bersama sama.
Prinsip dasar Pendidikan juga harus berkiblat pada nilai kebangsaan untuk menjaga keberlangsungan masa depan bangsa, sekaligus pilar bagi ketahanan negara, demikian di katakan oleh Ketua Yayasan Karya Dharma Pancasila UNDHA AUB Surakarta yang juga alumni Angkatan ke 39 LEMHANAS RI.
Untuk membangun pendidikan yang baik, kurikulum system Pendidikan harus mengedepankan pembangunan intelektual, emosional dan spiritual secara berkesinambungan sejak mulai pendidikan usia dini hingga ke jenjang perguruan tinggi.
Dengan terciptanya system Pendidikan yang berkesinambungan, capaian Pembangunan sumber daya manusia dapat di rasakan hasilnya.
Penciptaan satu generasi dalam sebuah peradaban jaman terjadi pada rentang waktu antara 20 hingga 25 tahun. Selama masa rentang tersebut, keluarga dan dunia Pendidikan memiliki peran sangat penting dalam membentuk intelektual, emosional dan spiritual ( Cipta, Rasa dan Karsa).
Kurikulum system pendidikan berkesinambungan harus melalui prinsip prinsip dasar kebangsaan, dengan melibatkan seluruh sektor lembaga terkait untuk mewujudkan cetak biru system Pendidikan.
Prinsip tersebut bukan berarti menolak pendidikan dari luar, namun lebih untuk memberikan penguatan nilai intelektual, emosional dan spiritual, agar generasi muda mampu menerima dan menyaring ilmu dari berbagai sumber dengan baik dan bijak.
Kunci keberhasilan Indonesia emas adalah terwujudnya satu generasi muda yang unggul, bermartabat dan berbudi pekerti luhur.
Hari ini kita gampang belajar menjadi orang pintar, tetapi sulit belajar menjadi orang yang berbudi pekerti luhur. Derasnya arus informasi bebas mengalir di internet ibarat dua mata pisau yang akan merugikan jika kita tidak bisa menyaring dan menggunakan informasi secara bijak.
Kebebasan tersebut tidak hanya di pakai untuk kepentingan luar, tetapi tanpa kita sadari juga menjajah pola pikir generasi muda.
Disrupsi kemajuan teknologi setiap saat dapat terjadi, oleh sebab itu untuk menangkalnya, generasi muda harus di bekali dengan penguatan sumber daya manusia melalui pemahaman pengetahuan secara bijak, emosional dan spiritual.
Perkembangan kemajuan teknologi adalah sebuah keniscayaan yang harus kita terima. Perubahan generasi juga bagian dari kemajuan jaman yang harus kita hadapi. Akan tetapi nilai dari sebuah kebaikan sampai kapanpun tidak akan pernah tergerus oleh jaman.
Leluhur dan para pendiri bangsa telah meninggalkan banyak pesan kebaikan yang dapat kita sampaikan pada generasi muda selaras dengan perkembangan jaman yang ada.
Bapak Pendidikan Indonesia Ki Hajar Dewantara dalam merintis dunia pendidikan di Indonesia tidak hanya meninggalkan prinsip prinsip dasar Pendidikan yang baik berpijak pada dasar kebangsaan, tetapi di dalam prinsip dasar tersebut di tinggalkan juga pesan kepemimpinan melalui Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani.
Dr. Anggoro Panji Nugroho, M.M menegaskan, bangsa besar adalah bangsa yang memiliki karakter kuat, memiliki kompetensi tinggi yang tumbuh dan berkembang dari dunia Pendidikan yang menerapkan nilai nilai luhur berbangsa dan bernegara.
Sebab hanya dengan karakter kuat bangsa Indonesia memiliki jatidiri yang kokoh.
Jikalau pengajaran yang ada tidak berdasar kenasionalan, maka anak anak akan jauh kecintaanya pada bangsa, mereka makin lama akan terpisah atau bahkan bisa menjadi lawan.
Saat ini kita mulai merasakan lunturnya rasa nasionalisme tersebut. Dimana mereka semakin mengagumi produk produk dan budaya dari luar, lupa dengan nasionalismenya, kecintaaanya pada tanah air.
Tiga pusat pendidikan yang di ajarkan Ki Hajar Dewantara dapat dilakukan dalam implementasi pengajaran.
Yang pertama Pendidikan oleh dan di peroleh dari keluarga. Selanjutnya Pendidikan oleh dan di peroleh dari pendidik, dan yang ketiga Pendidikan oleh dan diperoleh dari masyarakat.
Tiga aspek tersebut harus saling mengisi segala kekurangan yang ada.
Sebab pengajaran akan berhasil apabila tri pusat Pendidikan berjalan dengan baik. Begitupun dalam hal kepemimpinan ‘ Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madaya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani.
Seorang pemimpin saat berada di depan harus dapat menjadi contoh bagi rakyatnya. Saat berada di tengah harus mampu memberi motivasi dan inspirasi untuk rakyatnya. Sedangkan saat berada di belakang senantiasa memberikan kekuatan dan dorongan kepada rakyatnya.
Konsep dasar kepemimpinan tersebut selaras dengan Tri Dharma Mangkunegara I yaitu, ‘ Rumangsa melu Handarbeni, Wajib Melu Hanggondeli, Mulat Sarira Hangrasawani’.
Rumangsa Melu Handarbeni, wajib merasa memiliki.
Seorang pemimpin dan rakyat harus wajib sama sama memiliki kecintaan yang besar pada bangsa dan negara. Sebab hanya dengan rasa kecintaan yang besar, maka negara akan menjadi kuat, mampu menghalau segala tantangan dan ujian.
Wajib Melu Hanggondeli.
Seorang pemimpin dan rakyat harus sama sama memiliki kewajiban mempertahankan dan memperjuangkan bangsa dan negara. Tidak hanya saat berperang melawan musuh, namun juga berjuang dalam rangka mencerdaskan bangsa.
Mulat Sarira Hangrasawani.
Seorang pemimpin harus berani intropeksi atau mawas diri. Begitupun rakyat yang di pimpinya, harus juga berani mawas diri. Seorang pemimpin yang baik harus di akui kebaikan dan keberhasilanya.
Jika salah katakan salah, jika benar katakan benar. Pemimpin harus mau di kritik, akan tetapi sampaikan kritik tersebut dengan baik, juga atas dasar solusi untuk perbaikan.
Jika prinsip dasar Pendidikan gagasan Ki Hajar Dewantara tersebut dapat di implementasikan dalam kurikulum yang berkelanjutan, maka Indonesia Emas akan terwujud. Begitupun konsep dasar kepemimpinan Tri Dharma Mangkunegara I, jika di impelementasikan secara benar oleh para pejabat di daerah sampai dengan pusat, maka negara ini akan sangat kokoh dan kuat.
Kemanunggalan rakyat dan pemimpin, akan melahirkan generasi unggul beradab dan bermartabat. Begitupun dalam hal kepemimpinan, akan lahir para pemimpin pemimpin bangsa yang dapat menjadi penerus para pendahulunya.
Sedangkan implementasi kepemimpinan dalam dunia Pendidikan yaitu seorang pendidik harus memiliki rasa ihklas mengasuh dan membimbing melalui system among.
Pendidikan melalui system kekeluargaan, bersendikan kodrat alam dan kemerdekaan. Sehingga seorang pendidik harus mau meluangkan waktunya untuk mendidik setiap saat, seperti halnya dalam lingkup keluarga, tidak sebatas pada jam jam efektif belajar.
Sebaik baiknya pengajaran pendidikan adalah di lakukan dalam suasana kekeluargaan.
Pendidikan harus di lakukan secara berimbang untuk mengembangkan kecerdasan dengan kepribadian. Kecerdasan tanpa kepribadian hanya akan mencetak anak pintar menjadi buruk. Begitupun sebaliknya, kepribadian tanpa kecerdasan akan menjadikan anak baik tetapi bodoh.
