KORANJURI.COM – Membatasi penggunaan gadget bukan berarti membuat siswa tertinggal secara teknologi. Ada yang lebih urgen dari pembatasan gadget di lingkungan sekolah.
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Fajar Riza Ul Haq mengatakan, pembatasan penggunaan gawai bertujuan membangun kebiasaan penggunaan teknologi yang sehat sejak dini
“Pembatasan penggunaan gawai juga menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan mental murid di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital,” kata Fajar dalam keterangannya, Senin, 27 Juli 2026.
Secara bertahap, sekolah diminta untuk melakukan pembatasan penggunan gadget. Mendikdasmen mengeluarkan Surat Edaran Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 18 Tahun 2026 tentang Pembatasan Penggunaan Gawai di Satuan Pendidikan.
Namun menurutnya, pembatasan gawai bukan berarti tidak boleh sama sekali. Sekolah tetap memanfaatkan laptop, telepon genggam, dan kecerdasan artifisial sebagai bagian dari pembelajaran.
Bedanya, murid menggunakan teknologi saat diperlukan, bukan untuk menemani sepanjang hari. Menurut fajar, mereka sejak usia dini dibiasakan untuk tidak bergantung pada ponsel.
“Pembatasan penggunaan gawai juga menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan mental murid di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital,” kata Fajar.
Potret Pembatasan Gawai di SMP Bumi Cendekia
Di Yogyakarta, hampir sudah tidak ada lagi pemandangan murid yang sibuk menatap layar saat bel istirahat berbunyi. Sebagai gantinya, mereka berkumpul dengan teman, bermain bola, atau membaca buku.
Kelaziman itu terjadi di SMP Bumi Cendekia Yogyakarta, setelah sekolah menerapkan pembatasan penggunaan gawai.
Kepala Sekolah SMP Bumi Cendekia Wisnu Utomo mengatakan, sekolahnya tidak melarang murid membawa gawai. Laptop dan telepon genggam tetap boleh dibawa, tapi penggunaannya diatur dengan jelas.
Laptop hanya digunakan satu hari dalam sepekan. Sedangkan, telepon genggam digunakan sesuai kebutuhan pembelajaran di bawah pengawasan guru.
“Dulu, saat murid boleh menggunakan laptop hampir setiap hari, konsentrasi belajar justru mudah terpecah. Guru juga membutuhkan waktu lebih lama untuk menyiapkan pembelajaran karena murid masih sibuk dengan perangkatnya,” kata Wisnu Utomo.
Setelah sekolah membatasi penggunaan laptop dan telepon genggam, perubahan mulai terlihat. Murid lebih siap saat guru masuk kelas.
“Murid jadi lebih banyak berinteraksi dengan teman, lebih aktif berolahraga, dan semakin sering memanfaatkan waktu luang untuk membaca buku,” tambahnya.
Guru Bahasa Indonesia, Triana Ratnasari, mengungkap, teknologi tetap menjadi bagian dari proses belajar. Saat materi drama misalnya, murid menonton contoh pementasan melalui YouTube.
Ketika mempelajari materi berita, mereka mencari informasi melalui gawai, lalu menuliskan analisis dan tanggapannya secara manual.
“Anak-anak tetap memanfaatkan teknologi sebagai sumber belajar. Yang kami latih adalah bagaimana mereka mengolah informasi dan menyampaikan pendapatnya sendiri, bukan bergantung pada teknologi,” jelas Triana. (*/Way)
