KORANJURI.COM – PT Bali Turtle Island Development (BTID) selaku pengelola Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura Kura Bali secara konsisten merawat dan memelihara ruang hijau di dalam kawasan. Mempertahankan areal hijau itu menjadi bagian dari pengelolaan jangka panjang.
Saat ini, ratusan ribu tanaman dan pepohonan tumbuh dan terjaga di dalam kawasan. Kehadiran elemen hijau turut menciptakan lingkungan yang lebih teduh. Serta, menjadi habitat bagi lebih dari 160 spesies burung dan berbagai jenis satwa lain yang ada di dalam kawasan.
Selain perawatan ruang hijau, pengelolaan kawasan juga dilakukan melalui pendekatan infrastruktur yang memperhatikan daya dukung lingkungan. Jalan di dalam kawasan menggunakan konblok berpori. Sehingga, air hujan dapat terserap dan dialirkan ke sistem water retention dan diolah kembali menjadi air bersih.
Seluruh jaringan utilitas seperti listrik dan high-speed internet ditanam di bawah tanah, untuk menjaga kerapihan lanskap serta meminimalkan gangguan visual dan risiko lingkungan.
Upaya-upaya tersebut berjalan seiring dengan pengelolaan air, pemantauan ekosistem, serta kolaborasi dengan komunitas dan lembaga konservasi.
Di wilayah pesisir, kolaborasi bersama warga Desa Serangan dan Turtle Conservation and Education Center (TCEC) terus berlangsung. Sepanjang tahun 2025, hampir 10.000 telur penyu diamankan dan ditetaskan melalui program bersama. Sekitar 4.700 tukik kemudian dilepasliarkan kembali ke laut.
Presiden Komisaris BTID Tantowi Yahya, mengatakan, pengelolaan kawasan dilakukan dengan menjaga keseimbangan antara aktivitas ekonomi dan tanggung jawab terhadap lingkungan.
“Pengembangan kawasan ini kami jalankan dengan tetap memperhatikan lingkungan serta manfaat bagi masyarakat sekitar,” ujar Tantowi saat menerima kunjungan Pansus TRAP DPRD Bali, Senin (2/2/2026).
Kesan terhadap kondisi kawasan juga disampaikan oleh Anggota DPRD Bali Ni Wayan Sari Galung saat menghadiri Bali International Trail Run (BITR) 2025.
“Banyak pohon yang rindang. Dikelola dengan baik. Dulu gersang, sekarang lebih teduh,” kata Sari Galung.
Kesan serupa disampaikan oleh mantan eks Kepala Kejaksaan Tinggi Bali Ketut Sumedana, yang kini menjabat sebagai Kajati Sumatera Selatan. Ia menilai, lokasi penyelenggaraan kegiatan tersebut memiliki suasana yang sejuk dan layak dipertimbangkan sebagai agenda rutin.
Sejumlah pejabat daerah yang hadir, termasuk Sekda Bali Dewa Indra dan Kapolda Bali Irjen Pol Daniel Adityajaya, juga menyampaikan pandangan yang sejalan, terkait kondisi kawasan yang dinilai nyaman untuk kegiatan luar ruang.
Pengelolaan kawasan ini juga berjalan seiring dengan arah pembangunan pariwisata Bali yang semakin menekankan kualitas, keseimbangan, dan orientasi jangka panjang.
Melalui pendekatan yang bertahap dan terukur, kawasan ini diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya bersama dalam mendukung ekosistem pariwisata yang lebih tertata dan bernilai tambah bagi Bali. (*)





