KORANJURI.COM – Kawasan wisata Sanur diremajakan kembali untuk menopang ekonomi berbasis pariwisata. Sanur sebagai jantung wisata di Kota Denpasar, masif dengan investasi dan perkembangan industri jasa wisata.
Kepala Dinas Pariwisata Kota Denpasar Ni Luh Putu Riyastiti mengatakan, rancangan transportasi non karbon yang memberikan manfaat jangka panjang dan kenyamanan wisatawan.
“Pariwisata berkelanjutan dan regenerative tourism menjadi atensi kita bersama. Isu keberlanjutan dan pengembangan kawasan rendah emisi di Sanur jadi upaya transformasi kawasan ramah lingkungan dan berdaya saing,” kata Luh Putu Riyastiti, Selasa, 19 Mei 2026.
Menurutnya, suasana kawasan perlu mendapat perhatian karena mempengaruhi pengalaman wisatawan. Kelancaran mobilitas, kemudahan berjalan kaki akan berdampak pada kualitas udara.
Pemerintah kota Denpasar mencanangkan wilayah Sanur sebagai Kawasan Rendah Emisi (KRE). Kolaborasi dilakukan dengan menggandeng WRI Indonesia bersama Koalisi Nol Bersih.
Net Zero Junior Analyst WRI Indonesia Anisa Kusumawardani mengungkapkan, KRE Sanur menjadi atraksi baru dalam meningkatkan nilai ekonomi berbasis pariwisata.
Transisi upaya dekarbonisasi itu menurutnya penting untuk pelaku usaha juga untuk menciptakan dunia usaha yang adaptif terhadap regulasi.
“Model bisnis dan permintaan wisatawan ke depan akan jadi nilai jual dan daya saing wisata,” kata Annisa.
Ketua DPD Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Bali Nyoman Nuarta mengatakan, transformasi Sanur akan memberikan cerita baru untuk HPI sebagai garda terdepan pariwisata.
“Ini menjadi nilai positif bagi kami untuk menyampaikan ke wisawatan kalau nilai keberlanjutan sudah mulai ada di Sanur,” kata Nyoman Nuarta.
Kawasan rendah Emisi Sanur memberikan alternatif moda pariwisata. Penggunaan kendaraan pribadi beralih pada transportasi masal yang telah disediakan.
“Efisien dan menguntungkan para pelaku usaha ke depannya, ini menjadikan Sanur lebih bersaing,” kata general manager Hotel Prama Sanur I Gusti Bagus Surya. (Way)
