KORANJURI.COM – Kawasan Rendah Emisi (KRE) Sanur yang menjadi model kemitraan masyarakat, pemerintah hingga komunitas, mendapat perhatian dari pemerintah Kolombia.
Sejumlah walikota dan pejabat pemerintah mengunjungi Desa Adat Intaran, Sanur untuk melakukan studi.
Diplomatic Mission Leader David Lopez Jimenez mengaku, kota-kota di Kolombia memiliki tantangan yang mirip dengan di Indonesia.
“Dengan model kemitraan hingga teknologi, seperti di desa ini, kami melihat potensi dan solusi yang aplikatif untuk kota-kota kami di Kolombia,” kata Jimenez, Senin (4/5/2026).
Di KRE Sanur, delegasi menyambangi sejumlah tempat seperti kawasan pantai, pasar tradisional hingga subak. Di kawasan publik terintegrasi sistem kelistrikan tenaga surya.
Trotoar dilakukan pelebaran untuk pejalan kaki sekaligus shuttle listrik Intaran. Mereka juga berdiskusi langsung dengan perwakilan desa adat, komunitas dan mitra pembangunan.
Komite Pengarah Koalisi Bali Emisi Nol Bersih Nirarta Samadhi mengatakan, Pemprov Bali memiliki target ambisius emisi nol bersih pada 2045.
“Kami yang berada pada Koalisi Bali Emisi Nol Bersih hadir untuk memastikan target tersebut tercapai,” kata Nirarta.
Ketua BUPDA Intaran Anak Agung Aryateja mengatakan, pihaknya aktif terlibat dan memastikan teknologi hijau, kearifan lokal, dan ekonomi bisa berjalan beriringan.
“Kami ingin Sanur menjadi contoh kawasan berkelanjutan yang dikelola komunitas, tapi juga dinikmati oleh turis, pekerja, hingga masyarakat,” kata Aryateja. (Way)
