KORANJURI.COM – Sepanjang satu bulan pada periode Januari hingga Februari 2026, pasar Tiongkok menyerap kebutuhan manggis dari Bali hingga 700% dibandingkan periode Desember 2025.
Lonjakan itu dipicu oleh kebutuhan menjelang Hari Raya Imlek yang jatuh pada 17 Februari 2026. Program go export, mendorong pelaku usaha untuk meningkatkan ekspor komoditas pertanian dan perikanan serta berkelanjutan.
Balai Besar Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Bali mencatat 42 kali sertifikasi ekspor manggis dengan volume 79,5 ton. Nilai ekspornya mencapai Rp2,6 miliar.
Di bulan Desember 2025 hanya satu kali sertifikasi dengan volume 7,9 ton.
“Program go export yang kami canangkan mendorong pelaku usaha meningkatkan ekspor komoditas pertanian dan perikanan secara berkelanjutan,” jelas Kepala Karantina Bali Heri Yuwono dalam siaran pers di Denpasar, Selasa, 10 Februari 2026.
Buah manggis Bali cukup populer bagi masyarakat Tiongkok. Terutama, saat hari raya Imlek. Mereka memandang bukan dari rasanya saja.
Tapi, ada nilai tertentu dari warnanya ungu tua yang dianggap melambangkan keberuntungan, kemakmuran dan kesehatan.
Rasanya juga dianggap cocok sebagai persembahan dan sajian istimewa saat perayaan hari besar di negeri Tirai Bambu.
Meski terjadi lonjakan signifikan menjelang Imlek, Heri Yuwono mengatakan, volume ekspor tahun ini masih menurun dibandingkan periode sebelumnya.
Pada Imlek tahun 2025, ekspor manggis Bali ke pasar Tiongkok mencapai 356,5 ton dengan 131 sertifikasi.
“Penurunan volume ekspor manggis ini disebabkan karena produktivitas menurun akibat perubahan musim dan cuaca ekstrem, banyak bunga manggis yang rontok,” jelas Heri Yuwono. (Way)





