Jejak Londo Ireng di Tanah Purworejo: Kisah Unik di Balik Lahirnya Kampung Afrikan

oleh
Gang Afrikan II, jalan menuju Kampung Afrikan di Purworejo - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Di jantung Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, tersimpan sebuah rekam jejak sejarah yang jarang ditemukan di wilayah lain di Indonesia.

Kota ini menjadi satu-satunya tempat yang memiliki pemukiman historis bernama Kampung Afrikan. Di balik berdirinya perkampungan ini, terselip kisah panjang tentang para serdadu bayaran asal Afrika barat, dari wilayah yang kini dikenal sebagai Ghana dan Burkina Faso, yang diboyong oleh Pemerintah Kolonial Belanda ke Nusantara pada abad ke-19.

Keputusan mendatangkan serdadu dari Benua Afrika bermula dari kesulitan Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch dalam merekrut tentara bayaran asal Eropa untuk menjaga keamanan di Hindia Belanda.

Pilihannya jatuh pada Afrika barat, tempat di mana Belanda memiliki pos-pos perdagangan dan benteng.

Pertimbangannya sangat pragmatis: serdadu Afrika jauh lebih murah, dikenal berani berperang, serta memiliki ketahanan fisik yang tinggi terhadap iklim tropis dan penyakit.

Buku “Poerworedjo Tempo Doeloe” karya Atas Danusubroto – foto: Koranjuri.com

Dengan harga sekitar 100 gulden per orang yang dibayarkan kepada raja setempat, Belanda berhasil mendatangkan gelombang demi gelombang serdadu Afrika.

Berdasarkan catatan sejarah, total ada 3.012 orang serdadu Afrika yang dikirim ke Hindia Belanda dalam beberapa periode.

Tahun 1831–1836 dikirim 112 orang, tahun 1837–1841 dikirim 2.100 orang, tahun 1860–1872 dikirim 800 orang.

Para tentara bayaran ini diikat kontrak selama 12 tahun dengan gaji 20 gulden per bulan, yang masih dipotong untuk mencicil ongkos pembelian mereka.

Secara hukum, status mereka disetarakan dengan serdadu Belanda Putih, kecuali soal gaji yang hanya separuhnya. Oleh karena itu, masyarakat pribumi kemudian menjuluki mereka sebagai Zwarte Hollanders (Belanda Hitam) atau Walonda Ireng (Londa Ireng).

Londa Ireng disebar di berbagai tangsi militer penting seperti Semarang, Solo, dan Salatiga. Namun, konsentrasi terbanyak ditempatkan di Tangsi Kedhung Kebo (Purworejo). Wilayah Bagelen saat itu dianggap sebagai daerah paling rawan pasca-Perang Diponegoro.

Meskipun satu batalyon serdadu kulit putih dan pribumi telah disiagakan, Belanda merasa belum aman, sehingga kekuatan ditambah dengan tiga kompi serdadu asal Afrika.

Sebagai prajurit, Londa Ireng dikenal datang tanpa beban karena sebagian besar dari mereka masih lajang dan merupakan mantan budak, serta memiliki tingkat kesetiaan yang tinggi kepada atasan. Setelah sempat diuji dalam penumpasan pemberontakan di Lampung yang hasilnya masih dinilai kurang memuaskan, mereka akhirnya membuktikan ketangguhannya.

Londa Ireng sukses besar saat diterjunkan dalam ekspedisi penaklukan Bali tahun 1849 (Perang Buleleng) yang berujung pada jatuhnya Benteng Jagaraga di Singaraja.

Seiring berjalannya waktu, banyak serdadu Londa Ireng yang mulai tinggal di luar tangsi dan membina rumah tangga melalui perkawinan dengan perempuan setempat.

Melihat pertumbuhan keluarga Afrika ini, sekaligus sebagai bentuk penghargaan atas jasa mereka dan strategi agar mudah dikerahkan dalam keadaan darurat, Pemerintah Kolonial Belanda mengambil keputusan penting.

Pada 30 Agustus 1859, pemerintah kolonial membeli sebidang tanah di Pangen Jurutengah (yang kini berada di sebelah timur RSUD Tjitrowardojo Purworejo) untuk dijadikan perkampungan khusus warga Afrika.

Setiap keluarga diberikan jatah lahan seluas 1.151 meter persegi untuk mendirikan rumah serta lahan berkebun dan bertani.

Dengan dukungan penuh kolonial, tumbuhlah sebuah pemukiman unik dengan nuansa keafrikaannya yang kental. Hubungan sosial antara warga Afrika dan masyarakat pribumi Purworejo terjalin dengan baik dan wajar, melahirkan anak-anak keturunan blasteran hasil asimilasi budaya.

Perjalanan Kampung Afrikan melewati berbagai fase pergolakan sejarah Nusantara. Ketika Jepang masuk pada Maret 1942 dan disusul Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia 1945, nasib para penghuninya mulai bergeser.

Tentara Jepang tidak serta-merta mengusik Kampung Afrikan karena mereka bukan orang Belanda secara etnis, meskipun secara hukum berstatus warga negara Belanda. Hanya mereka yang aktif di militer kolonial saja yang ditahan bersama tentara Belanda Putih.

Namun, situasi berubah drastis pasca-Kemerdekaan RI tahun 1945. Orang-orang Afrika yang memegang status hukum ‘Belanda Hitam’ digolongkan dan diperlakukan sama dengan orang Belanda. Kampung Afrikan terpaksa dikosongkan.

Para penghuninya dipindahkan sementara ke Gombong, lalu dibawa ke Jakarta atau Bandung, sebelum akhirnya direpatriasi (dipulangkan secara massal) ke Negeri Belanda. Keputusan ini juga sejalan dengan pilihan mayoritas mereka saat itu yang menyatakan dengan tegas: “Saya orang Belanda dan tidak ingin menjadi orang Indonesia.”

Meski para penghuni generasi pertamanya telah meninggalkan tanah Nusantara puluhan tahun silam, nama Kampung Afrikan di Pangen Jurutengah, Purworejo, tetap abadi hingga kini.

Wilayah tersebut tidak hanya menjadi saksi bisu sejarah kolonial, tetapi juga kerap menjadi titik temu bagi para keturunan Afrika yang tersebar di berbagai penjuru kota untuk mengenang jejak leluhur mereka. (Jon)

(Disarikan dan diolah dari buku berjudul “Poerworedjo Tempo Doeloe” karya Atas Danusubroto terbitan tahun 2016, seorang penulis dan sejarawan lokal asal Purworejo)