Hoaks Tersebar di Medsos, ITB-STIKOM Bali Tempuh Jalur Hukum

    


Pengurus Yayasan dan Rektorat ITB-STIKOM Bali menggelar keterangan pers dalam kasus penyebaran konten hoaks di media sosial, Selasa, 3 Desember 2019 - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Kampus Institut Teknologi dan Bisnis (ITB) STIKOM Bali berencana membawa ke ranah hukum terkait konten hoaks yang beredar di media sosial. Kabar yang viral dan dibagikan hingga ribuan kali itu, dinilai oleh Wakil Ketua Yayasan Widya Dharma Santhi I Made Marlowe Makaradhwaja Bandem, sangat merugikan pihak kampus dan seluruh civitas yang ada.

Menurut Marlowe, konten hoaks yang ditemukan di jejaring sosial Facebook dan WhatsApp itu, juga sarat dengan ujaran kebencian. Selain itu, kata Marlowe, tim forensik ITB-STIKOM berhasil menelusuri pengunggah pertama kabar bohong itu beserta dengan akun-akun lain yang turut menyebarkan.

“Tentunya kami akan menempuh jalur-jalur resmi bekerjasama dengan pihak kepolisian, dengan pihak provider GSM, provider medsos termasuk Facebook dan juga WhatsApp, untuk menelusuri sumber penyebaran hoaks ini,” jelas Marlowe Bandem di Denpasar, Selasa, 3 Desember 2019.

Konten hoaks yang ramai beredar dan diviralkan oleh sejumlah akun Facebook berjudul ‘Masyarakat Bali vs STIKOM Bali Scorenya 4:0’. Ada 4 poin dalam penyebaran konten bohong itu salah satunya, tentang plat nomor mobil operasional ITB-STIKOM Bali yang menggunakan digit ‘1515’, atau dalam konten yang diviralkan itu dikonotasikan sebagai ‘ISIS’.

Rektor ITB-STIKOM Bali, Dadang Hermawan membantah, jika dari nomor kendaraan operasional itu, lembaganya terafiliasi dengan gerakan radikal atau menganut radikalisme. Dadang menegaskan, kampus ITB-STIKOM Bali selama ini mengembangkan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dalam koridor pendidikan.

“Kegiatan mahasiswa yang ada di kampus kami juga jauh dari radikalisme, tapi justru mengangkat pluralisme. Kehidupan toleransi yang ada juga cukup baik, kami sangat menjunjung perbedaan,” jelas Dadang Hermawan.

Terkait nomor kendaraan yang menurut Dadang Hermawan ‘dipelintir’ oleh pihak-pihak tertentu, pihaknya kembali menegaskan bahwa tuduhan tersebut tidak berdasar atas fakta yang ada.

Dadang tidak menampik, ada 4 unit mobil operasional dengan plat nomer 1515. Hal itu sempat jadi polemik 4 tahun lalu. Kemudian, pihak ITB-STIKOM Bali merubah 3 kendaraan dengan nomer polisi baru untuk menghindari tuduhan yang tidak berdasar.

Namun sekarang, isu yang sama kembali dimunculkan ke permukaan dengan narasi negatif terhadap kampus IT terbesar di Bali dan Nusa Tenggara itu, dengan dibumbui unsur SARA.

“Sekarang masih ada satu mobil dengan plat nomer 1515. Nanti akan kita rubah setelah ganti surat kendaraan,” jelasnya.

Berita palsu bermuatan SARA yang ditujukan kepada ITB STIKOM Bali menurut Dadang, merupakan isu lama yang didaur ulang. Kegaduhan hoaks bermuatan adu-domba ini, bukan semata-mata ingin menghancurkan nama baik dan prestasi ITB STIKOM Bali, namun ditujukan sebagai upaya memecah-belah kebersamaan, kerukunan dan kedamaian di Bali.

“Ini berbahaya sekali karena bisa
menimbulkan konflik di tataran akar rumput. Keluarga besar ITB STIKOM Bali mengecam penyebaran hoaks bermuatan SARA ini, dan akan menjalankan tanggung jawab moral menjaga NKRI dengan menempuh jalan hukum,” ujarnya demikian.

Menghadapi isu yang berkembang, ITB STIKOM Bali tetap berkomitmen menjadi kampus TIK yang berlandaskan pada keteguhan melestarikan, mengembangkan, dan memajukan kebudayaan Bali. (Way)