KORANJURI.COM – Parade budaya di Tabanan yang digelar selama 1,5 bulan pada 21 Juni hingga 9 Agustus 2026, melahirkan juara pada kategori Gebogan dan Baleganjur. Kegiatan budaya itu bukan hanya menarik jumlah kunjungan wisatawan, tapi juga upaya melestarikan tradisi yang hidup di masyarakat.
Penyerahan piala untuk pemenang pada masing-masing kategori digelar di The Blooms Garden Bali, Kecamatan Baturiti, Tabanan, Minggu, 9 Agustus 2026.
Desa Candi Kuning menjadi peraih peringkat tertinggi untuk kategori Baleganjur. Desa di tepi danau itu sekaligus berhasil mempertahankan piala bergilir selama 2 tahun berturut-turut.
Bendesa adat Candi Kuning I Wayan Suardika mengatakan, dalam lomba Baleganjur itu Desa Adat Candi Kuning menampilkan fragmen tari berjudul ‘Gita ring Hyang’.
“Yang kami tampilkan ini ada fragmen tarinya, gerak harus selaras dengan musik gamelan yang mengiringi, sehingga penampilan kami pun juga berbeda,” kata Suardika.
Menurut Suardika, tradisi Baleganjur yang dikembangkan di Desa Adat Candi Kuning memang disiapkan untuk berbagai kebutuhan. Termasuk, Baleganjur untuk parade.
Sehingga, kematangan garapan untuk parade juga berbeda dan tahun ini sukses meraih uang pembinaan Rp20 juta serta mempertahankan piala bergilir.
Dalam kategori Gebogan, Desa Adat Batusesa, Kecamatan Baturiti, Tabanan, juga berhasil meraih juara pertama dan mendapatkan piala bergilir.
Ni Luh Putu Prasyani, yang mewakili tim dari Desa Adat Batusesa mengatakan, proses membuat Gebogan membutuhkan waktu panjang. Perubahan demi perubahan dilakukan untuk menghasilkan rangkaian Gebogan yang indah dan bermakna.
“Satu minggu setelah pengumuman kami lolos, kami tiga kali membuat konsep. Ini kami lakukan agar tidak sama dengan peserta lain, sampai akhirnya jadi konsep yang ketiga seperti yang kamin pentaskan dan mendapat juara,” kata Luh Putu Prasyani.
Gebogan yang merupakan susunan buah-buahan, jajanan pasar dan bunga itu, kata Prasyani disusun selama tiga hari dengan kelengkapan jajanan uli?
“Mengapa jaje uli yang kami pilih? Karena itu jajanan ibu-ibu Bali. Biasanya kaum ibu pada H-3 piodalan mereka akan membuat jaje uli, itu tidak bisa dilepaskan dalam setiap kegiatan adat,” jelasnya.
Pemangku komunikasi The Blooms Garden Bali I Made Sukarata mengatakan, pagelaran budaya itu mendongkrak jumlah kunjungan wisman hingga 60 persen.
Mayoritas wisatawan yang berkunjung bukan saja untuk menikmati suguhan atraksi budaya, tapi juga wahana permainan yang ada di arena The Blooms Garden Bali.
“Dari evaluasi yang kita lakukan, ada sejumlah masukan dari wisatawan terutama, keinginan mereka mendapatkan pengalaman seperti ikut menyusun rangkaian Gebogan,” kata Made Sukarata. (Way)
