KORANJURI.COM – Ubud menyimpan banyak keindahan. Selain tradisi dan budaya hingga dijuluki sebagai ibukota gastronomi, kawasan Ubud juga menyimpan keindahan alam yang hijau dan lestari.
Maka tak heran, jika Ubud banyak dikunjungi oleh wisatawan asing dan domestik. Bahkan, Ubud juga mampu menjaga image sebagai destinasi berkelas. Wisman yang berkunjung ke Ubud punya spek berbeda dibandingkan wisman di destinasi wisata hingar bingar yang kerap memicu kericuhan.
Hijaunya alam Ubud juga dikuatkan oleh desa-desa di sekitarnya yang tetap bersandar pada kekuatan lokal dalam hal pengetahuan, nilai dan kebiasaan yang dianut oleh masyarakat.
Meski di sisi lain, industri destinasi wisata tetap bertumbuh di situ. Namun, kesadaran para pelaku wisata dalam menjaga alam tetap bergayung sambut dengan kearifan lokal yang berkembang.
Seperti di Desa Kenderan, yang jaraknya sekitar 8,5 km dari pusat wisata Ubud. Di situ, berdiri destinasi wisata baru yang banyak melibatkan masyarakat lokal sebagai pemain utamanya.
Toya Ubud, dikelilingi oleh sungai, pepohonan dan persawahan yang berpadu harmonis dengan nuansa spiritual serta budaya lokal. Destinasi ini terletak bersebelahan dengan Pura Griya Sakti Manuaba, sebuah Pura suci yang telah berdiri sejak abad ke-17 dan menjadi tempat pemujaan bagi umat Hindu Bali.
Pura ini merupakan pusat religius bagi Trah Manuaba, yang merupakan anak-cucu keturunan Brahmana Manuaba dan punya peran penting dalam membentuk sejarah dan legenda di Desa Kenderan.
“Di sini ada dua restoran yakni, Hong Restaurant dengan sajian khas authentic Chinese cuisine ditambah pemandangan lembah Desa Kenderan dan gemericik Sungai Petanu. Satu lagi, Tosca Resto menyajikan hidangan Western dan Indonesia dengan konsep no pork dan aneka kopi lokal,” kata pemilik Toya Ubud I Ketut Marjana.
Ia mengatakan, Toya Ubud mengusung konsep tematis. Sumber daya yang digunakan 98 persen masyarakat lokal mulai dari pemahat, pelukis hingga pegawai.
Toya Ubud juga dilengkapi dengan areal glamping berkelas bintang 5. Untuk penginapan tenda atau green camping berkapasitas minimal dua orang hingga tenda untuk keluarga berkapasitas tiga tempat tidur plus teras.
“Minimal booking dua orang sudah termasuk breakfast dan dinner, kita hitung per orang Rp300.000, untuk tenda keluarga Rp1,3 juta per dua orang,” kata Marjana.
Fasilitas penginapan lainnya adalah The Keong yang didesain unik dan modern. Akomodasi ini dikemas dalam suasana private dengan satu pintu dan akses masuk dilengkapi kunci kartu.
“Jadi hanya yang menginap di sini saja yang bisa mengakses,” kita Ketut Marjana.
Sejak mulai dikunjungi pada Januari 2025, Toya Ubud menarik perhatian berbagai kalangan termasuk, pasangan selebriti Anang dan Ashanty.
“Saya tidak menyangka bagaimana bisa ada tempat seunik ini di desa seasri ini,” kata Anang.
Dalam pengembangan selanjutnya, destinasi wisata itu akan dilengkapi dengan resto bangunan tradisional Bali serta Japanese Resto. Di situ juga akan dilengkapi 3 kolam renang yang yang dibangun secara bertingkat.
Di lokasi lain seluas 2 hektar akan ada kebon kopi, coklat dan tanaman holtikultura termasuk sarana wellness untuk tempat beryoga serta aktifitas fisik lainnya. (Way)





