KORANJURI.COM – Gubernur Bali Wayan Koster mengatakan, penggunaan endek dan busana adat Bali mendorong pertumbuhan ekonomi dari bawah.
Dirinya melihat, sejak surat edaran penggunaan busana adat digulirkan pada tahun 2021, motif dan corak yang ada sangat beragam. Hal itu menjadi indikator permintaan pasar ikut mendorong varian corak kain endek.
“Produk lokal Bali semakin mendapatkan tempat, Pergub 99/2018. Jadi sistem yang kita jalankan mulai bekerja, dari hulu ke hilir dia bergerak dan sangat mempengaruhi pembentukan PDRB kita,” kata Wayan Koster dalam HLM TPID dan TP2DD di Kantor Banki Indonesia, Bali, Selasa, 10 Februari 2026.
Gubernur menambahkan, busana adat Bali dan kain endek mendorong peningkatan ekonomi lokal. Konsumen busana adat Bali itu menghidupkan seluruh lini produksi. Secara tidak langsung, gerakan bersama itu akan meningkatkan kapasitas ekonomi di Bali.
Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali melaporkan, pertumbuhan ekonomi Bali di tahun 2025 mengalami inflasi 2,91% (yoy), atau di bawah nasional sebesar 2,92% (you).
Koster mengatakan, inflasi tahunan itu berada dalam rentang target. Hal itu mencerminkan kondisi ekonomi yang terkendali dengan pertumbuhan tahunan 5,82% di tahun 2025.
“Dan saya amati Bali nomer lima, empat Provinsi di atas Bali adalah daerah penghasil tambang. Jadi, penggerak ekonomi hanya beberapa industri saja, cukup dengan izin jalan,” kata Koster.
Namun, kondisi itu berbeda dengan Bali sebagai daerah pariwisata. Seluruh lini ekonominya bergerak dari Provinsi dan Kabupaten/Kota.
“Ekosistem ekonomi kita bagus, kalau kita tidak ada gejolak, politik dan sosial, kondisinya bisa ditakar. Dan, terbukti ekonomi Bali tumbuh 5,82 persen tahun 2025 yoy,” ujarnya.
Sementara, Kepala Kantor Perwakilan wilayah Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Bali Erwin Soeriadimadja mengatakan, menjelang hari besar keagamaan nasional (HBKN), inflasi month to month yang dapat dikendalikan.
“Menjelang HBKN Idul Fitri dan Nyepi, harapannya kita bisa meminimalkan inflasi month to month lebih rendah dari tahun lalu sebesar 1,61 persen, tahun ini mudah-mudahan bisa lebih rendah lagi,” kata Erwin.
Bank Indonesia mencermati 10 komoditas pangan yang dapat memicu volatilitas harga di tahun 2026. Seperti, cabai, bawang merah dan sayur mayur, pepaya, jeruk, ikan tongkol dan telur ayam.
“Komoditas itu bisa dijadikan fokus dalam mengendalikan inflasi tahun 2026,” jelas Erwin. (Way)





