Dipercaya Bawa Keberuntungan, Lempar Koin di Kolam Pengharapan Monkey Forest

oleh
Wisatawan tengah menikmati suasana kolam Beji yang berada di Monkey Forest, Ubud - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Selain sebagai destinasi wisata faforit, Monkey Forest Ubud juga punya cerita berbeda dari kebiasaan yang dilakukan oleh wisatawan. Mereka, ada yang datang untuk melempar koin ke tengah kolam atau Beji untuk mendatangkan harapan keberuntungan.

Penjaga Pura Beji yang juga petugas di Monkey Forest Ubud Wayan Wistana mengatakan, menjelang tahun baru banyak pengunjung datang untuk melakukan ritual lempar koin.

“Kebanyakan wisatawan lokal, meski banyak juga turis asing yang ingin melihat keunikan wisata hutan kera di sini,” kata Wistana beberapa waktu lalu.

Pengunjung yang datang, silih berganti menyempatkan turun ke sendang Beji untuk melemparkan koin, sambil berdoa singkat dalam hati memanjatkan harapan baru di tahun yang baru.

Ritualnya juga sederhana. Cukup mengambil sebuah koin tanpa harus memilih nominalnya. Kemudian langsung dilemparkan ke dalam air yang berada di kolam itu.

Tidak hanya wisatawan lokal saja, sejumlah wisawatan asing yang notabene bule yang sulit mempercayai sugesti spiritual seperti itu, ada juga yang ikut melemparkan koin.

“Yang pasti setiap orang butuh keberuntungan. Bisa juga karena mereka sedang berada disini, kalau hanya melempar sekeping koin untuk membuang nasib sial, apa sih susahnya?” kata Wistana demikian.

Di kolam ‘pengharapan’ yang berukuran sekitar 4×2 meter itu juga terdapat tiga patung. Patung paling besar yang berada di tengah berwujud Ganesha dengan diapit dua bidadari di kiri kanannya. Ketiga patung itu mengalirkan air dari sumber air suci yang ada di dalam Pura.

Mitos keberuntungan di kolam Beji semakin dikuatkan dengan adanya sembilan ekor ikan koi berukuran besar. Seperti diketahui, ikan bercorak polkadot dengan warna cerah menyala itu bagi masyarakat Tionghoa juga membawa berkah keberuntungan.

“Ikannya dari dulu juga segitu saja jumlahnya. Memang ikan koi kalau dihubungkan dengan kepercayaan dari Cina adalah ikan keberuntungan. Terlepas dari semua itu, tirta di Pura Beji sampai sekarang masih sangat disakralkan,” ujarnya.

Tiga Pura
Di kawasan Monkey Forest, Desa Padangtegal, Ubud ini, ada tiga pura tua yang konon dibangun sejak abad 14.

Lempar koin yang dilakukan anak wisatawan asing - foto: Koranjuri.com
Lempar koin yang dilakukan anak wisatawan asing – foto: Koranjuri.com

Pura pertama adalah Pura Beji, Pura Prajapati dan Pura Dalem Agung yang biasa digunakan untuk upacara setelah upacara pengabenan di Pura Prajapati. Sedangkan Pura Beji sendiri adalah Pura dengan sumber mata air alami yang berada di dasar lembah kawasan hutan wisata tersebut.

“Disitu ada tiga sumber mata air. Dua diantaranya boleh digunakan untuk umum, sedangkan satu sumber mata air hanya boleh digunakan saat ada upacara yang membutuhkan tirta untuk sarana upacara. Tirta itu diambil dari sumber air yang ada di Pura Beji,” kata Wayan Wistana.

Pura Beji disini terdiri dari tiga pura, yakni Pura Utama Mandala yang dikenal sebagai pura pemandian para dewa, Pura Madia mandala yakni pura yang memiliki sebuah kolam suci serta Puri Nista Mandala yang merupakan tempat pemandian umum.

Dari situlah kemudian disebut dengan nama Beji yang artinya pemandian untuk menyucikan diri. Sumber air yang disucikan diletakkan di dalam pura.

Sehingga, tidak semua pengunjung bisa masuk ke dalamnya. Hanya warga Padangtegal yang sedang bersembahyang saja yang diijinkan masuk ke dalam Pura Beji.

Namun begitu, agar orang bisa merasakan aura kesakralan airnya, persis di depan pura dibangun sebuah kolam untuk menampung air tersebut. (Way)

Baca Artikel Lain KORANJURI di GOOGLE NEWS