KORANJURI.COM – Selama tiga bulan berturut-turut, month to month, secara umum Bali mengalami penurunan indeks harga konsumen. BPS mencatat, pada Agustus 2026 inflasi di Bali sebesar 0,61%.
Kemudian, di bulan September merosot menjadi 0,32% dan di bulan Oktober 2026, inflasi di Bali kembali turun di angka 0,25%. Keterpurukan harga ini menandai melemahnya daya beli atau melimpahnya ketersediaan barang kebutuhan.
- Secara month to month Bali mengalami penurunan IHK selama tiga bulan, inflasi yoy tercatat turun dari 0,61% pada Agustus, menjadi 0,32% di September, dan 0,25% di Oktober 2026 yang menandai melemahnya daya beli atau melimpahnya pasokan barang.
- Kepala KPwBI Bali Achris Sarwani menegaskan pengendalian inflasi di dua bulan terakhir 2026 perlu diperkuat agar tetap di rentang sasaran melalui Rakor TPIP-TPID, Gerakan Pangan Murah, dan pemantauan harga berkala.
- Keterbatasan pasokan hortikultura saat musim kemarau El Nino, gangguan distribusi BBM di pertengahan Oktober, dan kenaikan harga daging babi akibat pasokan terbatas di tengah permintaan tinggi menjadi tekanan inflasi di Bali.
Melalui data yang dirilis BPS tersebut, Kepala Kantor wilayah Bank Indonesia (KPwBI) Bali Achris Sarwani mematok target, inflasi di pulau pariwisata ini tetap berada di rentang sasaran 2,5%±1% pada akhir tahun.
“Pengendalian inflasi pada dua bulan terakhir 2026 ini perlu terus diperkuat agar tetap berada pada rentang sasaran,” kata Achris, Senin (2/11/2026).
Secara reguler, Bank Indonesia melakukan penguatan bersama Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) tingkat provinsi hingga Kabupaten dan Kota.
Parameter yang digunakan untuk mempertahankan fluktuasi inflasi yakni, keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi yang efektif.
Mengutip dari situs
bank Indonesia, Inflasi adalah kenaikan harga barang dan jasa secara umum dan terus menerus dalam jangka waktu tertentu.
Kenaikan harga dari satu atau dua barang saja tidak dapat disebut inflasi, kecuali bila kenaikan itu meluas atau mengakibatkan kenaikan harga pada barang lainnya.
Namun, kebalikan dari inflasi disebut dengan deflasi, penurunan harga barang.
“Langkah implementasinya diantaranya melalui Rakor Inflasi TPIP-TPID, intensifikasi Gerakan Pangan Murah (GPM) dan pemantauan harga secara berkala,” kata Achris.
Menurut Achris, keterbayasan pasokan pangan khususnya komoditas hortikultura terjadi pada musim kemarau di tengah fenomena El Niño.
Gangguan distribusi BBM yang terjadi secara sementara pada pertengahan Oktober lalu, turut memberikan tekanan terhadap kelancaran distribusi barang di beberapa wilayah.
Sedangkan, kenaikan harga daging babi terjadi di tengah terbatasnya pasokan dan tingginya permintaan pasar. (Way)
