BVRMA Rangkul Akomodasi Wisata untuk Legalkan Usaha di Event Bali Villa Connect

oleh
Bali Villa Connect 2026 yang digelar oleh Bali Vila Rental and Management Association (BVRMA) - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Bali Vila Rental and Management Association (BVRMA) menyoroti maraknya vila bodong yang beroperasi bukan karena pemilik tak mau mengurus perizinan.

Namun, pengelola maupun pemilik tidak punya informasi cukup harus mengurus kemana.

Ketua BVRMA Bali Vila Rental and Management Association Kadek Adnyana mengatakan, selama ini para pengusaha vila tidak tergabung dalam ekosistem yang memberikan informasi terkait perizinan. Kadek Adnyana mengatakan, selama ini para pengusaha vila tidak tergabung dalam ekosistem yang memberikan informasi terkait perizinan.

“Sebenarnya mereka ingin mengurus perizinan itu, tapi karena mereka tidak tahun harus kemana, akhirnya dibiarkan saja izin itu tidak terurus,” kata Kadek Adnyana di Badung, Bali, Selasa, 26 Mei 2026.

Keberadaan BVRMA menjadi wadah para pengusaha dan pengelola vila di Bali agar dapat beroperasi sesuai regulasi. Saat ini, kata Kadek, 70 pengusaha vila di Bali telah tergabung di Asosiasi BVRMA.

Ia mengatakan, asosiasi memberikan akses perizinan dari yang paling atas hingga birokrasi di tingkat bawah. Sehingga, kebutuhan para pemilik vila dapat terakomodir dan berjalan sesuai regulasi.

“Di sini kita belajar bersama, mencari solusi bersama, apa yang sebenarnya jadi masalah dari pariwisata kita di Bali,” kata Kadek.

Di dalam wadah yang memiliki visi yang sama, Kadek Adnyana berharap, para operator maupung pengusaha vila punya pemahaman komprehensif.

Ke depan, semua akomodasi pariwisata yang ada di Bali akan memiliki perizinan secara legal sehingga tidak sampai merusak lingkungan karena dampak alih fungsi lahan.

Selain itu, limbah yang dihasilkan juga akan terkelola dengan baik dalam ekosistem.

“Dari 70 perusahaan yang tergabung dalam BVRMA ini ada ribuan vila. Dengan adanya Bali Villa Connect ini kami memberikan kesempatan untuk vila yang berlum berizin untuk bergabung dalam wadah asosiasi ini,” kata Kadek.

Bali Villa Connect 2026 diikuti 40 eksebitor dengan menghadirkan 30 pembicara dalam sesi workshop. Sekitar 900 peserta hadir dalam event kedua yang digelar BVRMA tersebut.

“Kami ingin membuat ekosistem vila ini lebih baik untuk mendukung quality tourism. Selama ini kita sering dengan pariwisata berkualitas tapi ekosistemnya tidak dibentuk,” ungkap Kadek Adnyana.

Sementara, staf ahli Gubernur bidang Permukiman dan Sarana Prasarana Tjok Bagus Pemayun mengatakan, event yang digelar oleh BVRMA menjadi terobosan untuk menjaga kualitas pariwisata Bali.

“Terutama untuk menjaga alih fungsi lahan. Pemprov Bali secara khusus membentuk tim percepatan yang melibatkan pihak swasta. Artinya, pemerintah sangat concern menata pariwisata Bali,” kata Tjok Bagus Pemayun. (Way)