KORANJURI.COM – Bank Indonesia meminta semua pihak mewaspadai dampak konflik geopolitik yang terjadi di Kawasan Teluk. Imbas peperangan diperkirakan juga akan menekan pertumbuhan ekonomi yang ada di Bali.
Kepala Kantor Perwakilan wilayah Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Bali Erwin Soeriadimadja memperkirakan, dampak konflik akan memberikan tekanan ekonomi Bali sebesar 0,05%.
“Kita perlu mewaspadai rambatan di berbagai sektor yang menjadi motor penggerak ekonomi di Bali, agar bisa survive dan tetap berdaya tahan,” kata Erwin di event Balinomics, Selasa, 21 April 2026.
Di sisi lain, Bank Indonesia memberikan penekanan pada empat pilar strategis untuk menjaga pertumbuhan ekonomi di Bali tetap stabil.
Menurutnya, sektor pariwisata yang selama ini menjadi backbone terus diperkuat melalui branding sebagai destinasi wisata terbaik di dunia.
“Bali bukan hanya punya modal alam dan tradisi tapi juga punya konektifitas kelas dunia yang menghubungkan ke berbagai negara,” jelasnya.
Aspek pariwisata juga perlu diperkuat untuk menjaga destinasi di Bali dari berbagai isu seperti, keamanan, kemacetan, akomodasi ilegal hingga persoalan penanganan sampah.
Erwin mengatakan, sektor investasi akan menjadi new hero untuk menciptakan efek berantai pertumbuhan ekonomi. Prospek investasi pada 2026 ini diperkirakan tetap kuat dengan dukungan program percepatan di berbagai sektor.
Selain itu, scale up pertumbuhan ekonomi dari sektor pertanian. Menurut Erwin, diversifikasi produksi pertanian mutlak dibutuhkan sebagai bantalan ekonomi di Bali.
“Strategi keempat, bagaimana kita bisa memperkuat UMKM termasuk ekonomi kreatif dan dukungan digitalisasi sebagai penyangga dan katalisator,” kata Erwin.
Sekretaris Daerah Provinsi Bali Dewa Made Indra mengatakan, tantangan ekonomi yang dihadapi dunia saat ini sangat berat. Eskalasi konflik di Timur Tengah yang tidak menentu akan berimbas secara luas di berbagai sektor.
Dewa Indra mengatakan, pariwisata di Bali sudah merasakan konflik geopolitik yang terjadi di Timur Tengah.
“Maka menjadi sangat penting untuk semua stakeholder yang ada di Bali untuk mendiskusikan tentang perekonomian kita hari ini dan ke depan. Karena faktanya, Bali sangat bergantung dengan sektor pariwisata,” kata Dewa Indra. (Way)
