KORANJURI.COM – Kawasan Asia Pasifik memiliki pertumbuhan industri MICE tercepat di dunia. Nilai industri MICE dunia diproyeksikan bernilai US$1 triliun.
Bali Convention and Exhibition Bureau (BaliCEB) melihat, Bali punya peluang sangat besar untuk menjadi pusat bisnis event internasional di kawasan Asia Pasifik.
Ketua BaliCEB I Ketut Jaman mengatakan, Bali sebagai destinasi wisata dunia punya kekuatan budaya yang unik, hospitality, konektifitas internasional yang dilengkapi dengan akomodasi berkelas dunia.
Menurut Ketut Jaman, kemampuan SDM di Bali terlatih dengan pengalaman panjang sebagai penyelenggara berbagai event bertaraf internasional.
“Bali punya modal besar untuk tampil lebih kuat sebagai pusat bisnis event internasional. Bali juga dikenal sebagai ruang perjumpaan global yang mampu menghadirkan pengalaman wisata, bisnis hingga diplomasi,” kata Ketut Jaman di Denpasar, Selasa, 26 Mei 2026.
Selain itu, kekuatan budaya yang unik, keramahtamahan yang ada serta konektifitas internasional, memberikan peluang bisnis MICE ke tingkat global.
Menurut Ketut Jaman, persaingan industri MICE global saat ini semakin kompetitif. Destinasi tidak hanya sekedar punya hotel dan ruang konvensi yang memadai.
“Dunia kini mencari destinasi yang memiliki sustainibility, teknologi, kualitas SDM, keamanan, konektivitas, serta kemampuan kolaborasi lintas sektor,” ujarnya.
Dikatakan, biro konvensi moderen seperti BaliCEB punya fungsi strategis sebagai promotor dalam pengembangan bisnis event.
“Tugasnya bukan hanya mempromosikan Bali tapi juga melakukan bidding event internasional, membangun jejaring global serta memperkuat branding destinasi,” kata Ketut Jaman.
Dewan Pembina BaliCEB Trisno Nugroho menambahkan, keberadaan biro konvensi akan membantu pengelola properti MICE dalam pemasaran.
Dia mengatakan, pola yang sama juga dilakukan oleh biro konvensi di negara lain.
“Dengan adanya BaliCEB akomodasi wisata yang punya convention center tak perlu menjual propertinya secara sendiri-sendiri,” kata Trisno.
Dengan segala keunggulan Bali menurutnya, event MICE akan mampu mengisi masa low season yang selama ini menjadi momok pelaku pariwisata di Bali.
“MICE bisa mengisi yang bulan Maret, April atau Oktober. Dimana, itu waktu low season kunjungan wisman,” kata Trisno.
“Buat saya, Bali adalah the best MICE location, di sini kita menggabungkan bisnis dan leisure. kalau di Bali meeting di Sanur selanjutnya bisa ke Ubud, Nusa Dua, Karangasem. Kalau di negara lain kita hanya berasa di gedungnya saja,” tambahnya. (Way)
