Bali Menuju Pariwisata Moderen Berbasis Budaya

    


Parade budaya Pesta Kesenian Bali (PKB) 44 - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Kebijakan pelonggaran yang dikeluarkan pemerintah pada 4 Februari 2022 menjadi awal pariwisata Bali kembali menggeliat. Secara bertahap, saat itu, pemerintah memastikan penerbangan langsung internasional ke Bali berlaku untuk pelaku perjalanan luar negeri (PPLN) Non Pekerja Migran Indonesia (PMI).

Moment itu disambut baik oleh pelaku pariwisata di Bali dengan mempersiapkan akomodasi pariwisata sesuai aturan yang berlaku.

Aturan yang ada mengacu pada Surat Edaran (SE) Nomor 4 Tahun 2022 yang dikeluarkan Satgas Penanganan Covid-19. Beleid atau aturan itu, disikapi oleh pemangku kepentingan pariwisata di Bali atau dalam hal ini Dinas Pariwisata Provinsi Bali.

Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali Tjok Bagus Pemayun menggandeng sejumlah organisasi di bidang pariwisata mematangkan kesiapan Bali menerima kedatangan wisatawan, baik internasional maupun domestik.

Hal itu bertujuan untuk mengangkat tingkat kepercayaan dunia, bahwa Bali siap menerima kembali wisatawan dengan prosedur aman dari penyebaran covid-19. Diantaranya adalah, penerapan sertifikasi cleanliness, health, safety & environment sustainability (CHSE) untuk hotel maupun akomodasi pariwisata. Langkah mitigasi itu ditangani oleh Pemerintah Provinsi Bali secara optimal.

“Ini perjuangan yang dilakukan Gubernur untuk membangkitkan kembali pariwisata Bali yang telah lama terpuruk, lebih dari dua tahun sejak pandemi merebak di bulan Maret 2020,” kata Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali, Tjok Bagus Pemayun di Denpasar, Senin, 24 Oktober 2022.

Upaya mitigasi itu, kata Tjok Bagus, akan meyakinkan calon wisatawan bahwa Bali berhasil menghadapi wabah global ini. Apalagi, Bali kembali terus memperluas cakupan negara yang dilayani oleh Visa on Arrival (VoA).

Selain itu, menurutnya, masyarakat Bali juga sangat disiplin menjalan protokol kesehatan (prokes). Bahkan 70 persen di antaranya sudah mengikuti vaksinasi yang ketiga alias booster.

“Situasi dan kondisi Bali saat ini sangat kondusif. Ini terlihat dari data kasus yang sangat kecil. Industri pariwisata di Bali telah menerapkan CHSE yang merupakan program Kemenparekraf berupa penerapan protokol kesehatan berbasis cleanliness (kebersihan), health (kesehatan), safety (keamanan), dan environment sustainability (kelestarian lingkungan),” jelasnya.

Kekompakan pelaku Industri pariwisata di Bali itu memberikan efek ganda bagi pengembangan pariwisata Bali ke depan. Di satu sisi, tingkat kunjungan wisman semakin meningkat.

Di sisi lain, peluang investasi kembali terbuka untuk membangun pariwisata berbasis budaya dengan kemasan kekinian.

“Kebangkitan pariwisata Bali juga tak terlepas dari berbagai event skala nasional maupun internasional yang telah dan akan digelar di Pulau Dewata ini,” kata Tjok Bagus.

Penghargaan Dunia untuk Kearifan Lokal Bali

Suasana destinasi wisata Ubud - foto: Koranjuri.com

Suasana destinasi wisata Ubud – foto: Koranjuri.com

Melihat pariwisata Pulau Dewata saat ini, situs perjalanan TripAdvisor mendapuk Bali dengan penghargaan Travelers’ Choice Best of the Best 2022.

Untuk kategori dunia, Bali juga berada di peringkat keempat setelah destinasi terpopuler dunia lainnya seperti, Dubai (Uni Emirat Arab), London (United Kingdom), dan Cancun (Meksiko). Di Asia, Pulau dengan banyak julukan positif ini, tetap bertahan di peringkat pertama sejak 2021.

Posisi Bali mengungguli destinasi terpopuler di Benua Asia mengalahkan New Delhi, Mumbai dan Jaipur di India, Beijing di China, serta Bangkok dan Phuket di Thailand. Tidak itu saja, bagian-bagian terkecil dari Bali seperti Ubud, di tahun 2022 ini, juga mendapat penghargaan bergengsi dari Majalah pariwisata yang berbasis di Amerika Serikat Travel+Leisure.

Ubud dinobatkan sebagai Kota terbaik di Asia Tahun 2022. Posisi Ubud mengalahkan Chiang Mai di Thailand, Jaipur di India dan Osaka, Jepang. Kepala Dinas Pariwisata Bali Tjok Bagus Pemayun melihat, tren tatanan era baru menunjukkan wisatawan mancanegara lebih memilih berwisata di ruang terbuka atau ke pedesaan.

“Disitu, Desa Wisata jadi pilihan wisatawan asing untuk menghabiskan liburannya di Bali. Perubahan selera ini menguntungkan Bali yang selama ini menjaga alam, tradisi dan budayanya,” jelas Tjok Bagus Pemayun.

Dari data Dinas Pariwisata Bali, saat ini ada 238 Desa Wisata yang tersebar di seluruh Pulau Dewata. Sedangkan, akomodasi pariwisata lainnya seperti Restoran sebanyak 3.233, hotel 5.494, Daerah Tujuan Wisata (DTW) 471, Wisata Tirta 299, dan SPA 1.100. (Way)

Baca Artikel Lain KORANJURI di GOOGLE NEWS