KORANJURI.COM – Bali mencanangkan pencapaian Emisi Nol Bersih pada tahun 2045 atau lima 15 tahun lebih cepat dari target nasional di tahun 2060.
Untuk menuju program ambisius itu kawasan Sanur, Bali akan dijadikan pilot project rendah emisi.
Anggota Dewan Pembina Koalisi Bali Emisi Nol Bersih Nirarta Samadhi meyakini proyek tersebut akan terwujud.
“Pemerintah tidak bisa bergerak sendiri. Perlu mengajak stakeholder untuk berkolaborasi dan memastikan ambisi itu tercapai, emisi nol bersih 2045,” kata Nirarta di Denpasar, Jumat (11/7/2025).
Seperti diketahui, kawasan Sanur merupakan kawasan dengan kepadatan lalu lintas sangat tinggi. Hal yang sama juga terjadi di Ubud, Gianyar.
Nirata mengatakan, ada sejumlah langkah yang akan ditempuh termsuk bekerjasama dengan Desa Adat setempat melalui lembaga yang ada.
Beberapa di antaranya adalah pengembangan sentral parkir di Mertasari dan Hyatt Regency.
Selain itu, kerjasama dengan BUPDA Intaran, Sanur dan Desa Adat dilakukan dengan pengembangan PLTS dan TPS3R di Sanur Kauh.
“Jadi kendaraan yang ada nanti punya pilihan untuk memilih parkir dan ke lokasi tujuan disediakan electric shuttle,” kata Nirarta.
Menurutnya, selama ini mobilitas di sekitar Sanur terintegrasi dengan transportasi publik. Hal itu menurutnya memungkinkan untuk pengembangan konsep ruas jalan.
“Ada bebrapa fase bagaimana ruas jalan di Sanur nanti bisa menggunakan mobilitas rendah karbon, apakah akan full pedestrian atau sebagian dulu,” ujarnya.
Dengan mengurangi mobilitas kendaraan diharapkan akan lebih banyak pejalan kaki. Secara tidak langsung, kondisi itu berpotensi meningkatkan pendapatan pedagang di kawasan wisata itu.
“Karena ada pergerakan tamu lebih banyak dengan berjalan kaki, bisa saja mereka mampir ke kafe atau restoran,” jelas Nirarta.
Sementara, Koalisi Bali Emisi Nol Bersih berkolaborasi dengan Pemerintah Provinsi Bali akan menggelar Pekan Iklim Bali 2025. Kegiatan itu akan berlangsung pada 25-30 Agustus 2025 di Denpasar, Bali.
Kegiatan itu akan jadi titik temu antara ambisi dan aksi iklim dalam menyuarakan peran pemimpin iklim daerah di Indonesia.
“Bali Climate Week diharapkan jadi tempat bertukar pikiran agar masyarakat percaya bahwa ambisi ini bisa tercapai bukan sekedar omon-omon dan tidak ada sesuatu di lapangan,” jelas Nirarta. (Way)





