Ketua SMSI Bali Soroti Krisis BBM: Bukan Cuma Distribusi, Tapi Komunikasi Publik

oleh
Ketua Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Bali Emanuel Dewata Oja alias Edo, di 'Sapa Pagi" Kompas TV Bali - foto: Ist.
Poin Penting Soal Krisis BBM:
  • Krisis Bukan Hanya Distribusi: Evaluasi krisis BBM di Bali tidak cukup fokus pada distribusi fisik, tapi asimetri informasi memperbesar keresahan warga.
  • Komunikasi Krisis Lemah: Ketua SMSI Bali Edo menilai manajemen komunikasi krisis Pertamina masih lemah.
  • Kecepatan Informasi: Distribusi: Dalam krisis, kecepatan distribusi BBM sama pentingnya dengan kecepatan distribusi informasi.
  • Bahaya Ruang Digital: Saat antrean BBM masuk ruang digital, semua orang menyebar info, gambar, dan video sendiri.
  • Pemprov Bali Terseret: Kewenangan Pemprov hanya koordinasi lintas pihak dan kebijakan darurat seperti ganjil-genap, bukan pasokan BBM.
  • Pelajaran Penting: Pertamina perlu komunikasi proaktif berbasis data dan update berkala.

KORANJURI.COM – Evaluasi terhadap krisis bahan bakar minyak (BBM) yang terjadi di Bali tidak cukup hanya berfokus pada persoalan distribusi fisik.

Dari perspektif komunikasi publik, peristiwa tersebut memperlihatkan adanya asimetri informasi yang berpotensi memperbesar keresahan masyarakat.

Hal tersebut disampaikan Ketua Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Bali Emanuel Dewata Oja alias Edo, di ‘Sapa Pagi” Kompas TV Bali.

Tema yang diangkat ‘Belajar dari Krisis BBM di Bali’ pada Rabu 21 Oktober 2026.

Edo yang juga praktisi pers dan Pengamat Komunikasi Publik, ini menilai kondisi tersebut berkaitan dengan lemahnya manajemen komunikasi krisis oleh otoritas yang bertanggung jawab, khususnya Pertamina.

Dalam situasi krisis BBM, kecepatan distribusi BBM sama pentingnya dengan kecepatan distribusi informasi.

“Masyarakat tidak hanya membutuhkan kepastian ketersediaan BBM, tapi juga informasi yang cepat, akurat, transparan, dan konsisten,” ujar Edo, Kamis, 22 Oktober 2026.

Menurutnya, ketika informasi mengenai kondisi pasokan, penyebab gangguan, serta langkah penanganan tidak disampaikan secara memadai, ruang publik mudah dipenuhi ketidakpastian.

Kondisi ini dapat memicu spekulasi, memperbesar keresahan, dan menyulitkan masyarakat dalam mengambil keputusan.

“Coba saja perhatikan. Apalagi ketika urusan antrean BBM sudah masuk ruang digital. Semua orang membangun komunikasi sendiri-sendiri dengan menyebarkan informasi, gambar juga video,” jelasnya.

Jika tidak terkontrol menurutnya, justru berpotensi mengamplifikasi kepanikan. Ini bahaya sekali. Beruntung masyarakat Bali tidak reaktif dan sangat bijak menyikapi ini.

“Di kota lain belum tentu aman seperti di Bali. Antrean bisa memicu tindakan anarkis dan tidak terkendali,” ujar Edo.

Edo juga menyoroti dampak komunikasi krisis tersebut terhadap Pemerintah Provinsi Bali. Pemprov Bali ikut terseret dalam kisruh di tengah masyarakat.

Meskipun menurutnya, kewenangan Pemprov Bali dalam situasi tersebut lebih berfokus pada koordinasi lintas pihak dan kebijakan darurat di tingkat daerah. Seperti, penerapan sistem ganjil-genap.

“Jangan sampai otoritas yang bertanggung jawab atas pasokan dan distribusi BBM tidak cukup hadir dalam komunikasi publik, sementara pemerintah daerah justru menjadi sasaran tuntutan masyarakat,” kata Edo.

Pelajaran penting dari krisis BBM Bali adalah perlunya menempatkan komunikasi publik sebagai bagian integral dari manajemen krisis, bukan sekadar pelengkap setelah persoalan muncul.

Ke depan, Pertamina dan otoritas terkait perlu membangun pola komunikasi yang lebih proaktif, berbasis data, serta memberikan pembaruan informasi secara berkala.

Dengan demikian, penanganan krisis tidak hanya berorientasi pada pemulihan distribusi BBM, tetapi juga pada pemulihan kepercayaan masyarakat.

“Dalam krisis, keterlambatan informasi dapat memperpanjang krisis itu sendiri. Pasokan harus dipulihkan, tetapi kepercayaan publik juga harus dijaga,” ujar Edo. (Way)