KORANJURI.COM – Penyelenggaraan The 7th World Congress on Probation and Parole (WCPP) 2026 di Bali, mengungkap kisah mengharukan tentang peran warga binaan pemasyarakatan yang berada di balik kesuksesan acara.
Perhelatan yang diikuti 44 negara dan lebih dari 400 peserta. Direktur Pemasyarakatan Mashudi mengaku haru atas keterlibatan aktif warga binaan dalam mendukung jalannya kongres berskala dunia tersebut.
Menurutnya, hampir seluruh elemen yang meramaikan acara berasal dari hasil pembinaan di lembaga pemasyarakatan.
“Ada yang membuat saya sangat terharu. Semua yang meramaikan dan menunjang acara itu adalah warga binaan,” ujarnya di Jakarta, Selasa (21/4/2026).
Menurutnya, kontribusi warga binaan tidak sekadar partisipasi simbolik. Tapi, mencerminkan kualitas pembinaan yang berkelanjutan dan terstruktur. Hal itu terlihat dari keberadaan kelompok musik dan gamelan yang tampil. Komunitas kesenian itu hasil regenerasi panjang di dalam lapas.

Ia menyebutkan, band Antrabez (Anak Terali Besi) yang tampil telah memasuki generasi kelima. Sedangkan, sekehe gong, kelompok gamelan sudah mencapai generasi ketiga. Regenerasi tersebut berjalan secara konsisten, seiring dengan keluar-masuknya warga binaan.
“Karena mereka warga binaan, ketika bebas langsung digantikan oleh yang lain. Proses mencari dan melatih penggantinya dilakukan oleh petugas lapas sendiri,” jelasnya.
Keberhasilan tersebut, kata Mashudi, menunjukkan sistem pembinaan di lembaga pemasyarakatan mampu melahirkan karya dan talenta yang layak tampil di panggung internasional.
Ia juga menilai, dedikasi para petugas lapas yang menjadi pelatih berperan besar dalam menjaga kesinambungan kualitas pembinaan.
Sebagai bentuk apresiasi, Mashudi sempat menawarkan penghargaan berupa promosi jabatan kepada para pelatih. Namun, respons yang diterima justru di luar dugaan.
“Saya tanya, ‘kamu ingin jabatan apa?’ Tapi jawabannya unik. Mereka tidak ingin jabatan, justru memilih tetap menjadi pelatih. Ada yang bilang, kalau dapat jabatan, nanti siapa yang melatih band,” ungkapnya.
Sebagian pelatih bahkan hanya menginginkan status jabatan fungsional agar tetap dapat fokus membina warga binaan. Sikap tersebut, meninggalkan kesan mendalam sekaligus menjadi refleksi tersendiri baginya.
“Saya pulang dari sana malah merasa tertekan, karena mereka tidak mau promosi. Mereka memilih tetap mengabdi di bidang yang mereka cintai,” katanya.
Kontribusi warga binaan dalam WCPP 2026 diketahui berasal dari berbagai lembaga pemasyarakatan. Di antaranya, Lapas Bangli, Lapas Kerobokan dan Lapas Perempuan Kerobokan.
Meski banyak pelatih menolak promosi, tapi penghargaan tetap akan diberikan sebagai bentuk pengakuan atas dedikasi mereka.
“Mereka bilang, ‘saya tetap di sini saja’.Tapi yang pasti, penghargaan tetap kami berikan. Sekecil apa pun kontribusinya harus dihargai,” ujarnya. (Thalib/Way)






