Green Journey Sukses Bawa ITDC Raih THK Tourism Awards 2026, Sekaligus Boyong Prestasi Seumur Hidup

oleh
General Manager The Nusa Dua I Made Agus Dwiatmika menerima penghargaan THK-CSR, Jumat, 9 Januari 2026 - foto: Ist

KORANJURI.COM – Bali sampai sekarang masih menjadi barometer pariwisata nasional dan menjadi rujukan studi dalam pengembangan destinasi wisata.

Pariwisata bukan hanya sekedar menjual jasa akomodasi, destinasi atau hospitality.

Pariwisata moderen berkembang menjadi konsep masa depan yang berkelanjutan, pelestarian alam, tradisi dan budaya hingga dengan memanfaatkan teknologi.

Inovasi dan kreatifitas untuk mencapai masa depan pariwisata berkualitas dan berkelanjutan itu, seringkali diukur melalui penghargaan, salah satunya Anugerah Tri Hita Karana (THK) Tourism Awards.

Di tahun 2026 ini, InJourney Tourism Development Corporation (ITDC), perusahaan plat merah yang memegang bidang aviasi dan pariwisata, berhasil meraih dua penghargaan.

ITDC menerima penghargaan ‘Lifetime Achievement’ dan THK-CSR Awards. Prestasi seumur hidup diberikan atas dua kali pencapaian super platinum yang diraih selama 10 tahun berturut-turut.

Sedangkan THK-CSR Awards merupakan penghargaan atas sinergi ITDC dengan petani organik untuk mewujudkan pertanian berkelanjutan dan pariwisata hijau.

General Manager The Nusa Dua I Made Agus Dwiatmika mengatakan, THK-CSR Awards merupakan komitmen bersama dalam menjalankan program tanggung jawab sosial.

“CSR ini memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan lingkungan,” kata Agus Dwiatmika.

Ajang Tri Hita Karana (THK) Tourism Awards 2026 digelar di Kharisma Ballroom, Discovery Kartika Plaza Hotel, Bali, Jumat (9/1/2026)

Dikatakan Agus Dwiatmika, Green Journey menjadi program CSR untuk pertanian organik di Desa Kedisan, Tegallalang, Gianyar, Bali.

Petani sawah organik di Desa Kedisan, Tegallalang, Gianyar – foto: Ist.

“Ini menjadi bagian dari program green journey dan kami sudah terhubung dengan kelompok petani di desa Kedisan dan sekarang sudah kedua kalinya,” kata Dwiatmika.

Menurutnya, upaya untuk mempertahankan sawah organik tidak mudah di tengah ketersediaan bahan kimia yang lebih instan.

Selain itu, kelompok petani sawah organik secara tidak langsung mendukung pariwisata berkelanjutan yang ramah lingkungan.

Desa Kedisan memiliki lahan sawah organik seluas 37 hektar. Sawah ramah lingkungan itu dikelola oleh dua kelompok Subak yakni, Kelompok Subak Kedisan Kelod dan Kaja. (Way)