KORANJURI.COM – Presiden RI ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengunjungi makam mendiang mertuanya, Jenderal TNI (Purn.) Sarwo Edhie Wibowo, Selasa (09/12/2025), di Ngupasan, Purworejo
Kunjungan ini bukanlah sekadar ziarah rutin, melainkan sebuah refleksi panjang tentang warisan kepahlawanan dan keteladanan dari sosok yang sangat berjasa bagi negara.
Tiba sekitar pukul 13.15 WIB, SBY disambut hangat oleh keluarga besar dan sejumlah tamu undangan, menciptakan suasana haru namun penuh makna. Di pusara sang Jenderal, SBY menyampaikan intisari dari sebuah kehidupan yang didedikasikan sepenuhnya untuk bangsa dan negara.
“Sosok Sarwo Edhie Wibowo merupakan prajurit sejati, teguh pada Negara, dan lurus pada kebenaran,” ujar SBY.
SBY, yang saat itu masih berpangkat Letnan Kolonel ketika pemakaman Sarwo Edhie pada 10 November 1989—bertepatan dengan Hari Pahlawan—mengingat betul betapa perjalanan hidup mertuanya adalah cerminan keteguhan prinsip. Meskipun wafat pada usia yang relatif muda, jejak pengabdiannya sungguh luar biasa.
Sarwo Edhie Wibowo bukan hanya seorang perwira tinggi; ia adalah saksi hidup sejarah bangsa. Ia adalah pejuang ’45, yang turut bertempur dalam Palagan Ambarawa, sebuah momentum krusial yang mengubah pandangan dunia terhadap eksistensi Indonesia.
Kariernya melesat melalui satuan elite RPKAD (kini Kopassus) dan keterlibatannya dalam operasi-operasi vital seperti Trikora dan Dwikora.
Di luar medan tempur, kontribusinya juga besar di ranah diplomasi dan pendidikan. Ia pernah menjabat sebagai Gubernur AKABRI selama empat tahun, Duta Besar RI untuk Korea Selatan, serta Inspektur Jenderal Kemlu. Bahkan, di bawah mandat Presiden Soeharto, ia memimpin BP7, lembaga yang mengawal penghayatan nilai-nilai Pancasila.
SBY secara khusus menyinggung perannya dalam penentuan keputusan politik di Papua melalui jajak pendapat PBB. Sarwo Edhie bertugas memastikan proses krusial itu berjalan aman dan tertib, menunjukkan bahwa kepemimpinannya hadir di setiap persimpangan penting sejarah nasional.
Bagi SBY, nilai-nilai yang diwariskan oleh Sarwo Edhie Wibowo dapat diringkas menjadi tiga pilar utama, cinta tanah air, disiplin, dan kesetiaan pada konstitusi. Ini adalah warisan yang jauh lebih berharga daripada sekadar catatan militer.
Refleksi SBY tak berhenti pada sosok mertuanya. Ia juga memberi penghormatan tinggi kepada Ibu Sunarti Srihadiyah, istri Sarwo Edhie, yang dimakamkan berdampingan.
Keberanian sang ibu dalam menghadapi interogasi dan patroli Belanda pada masa perang gerilya, tanpa pernah membocorkan rahasia, adalah heroisme seorang istri prajurit yang patut dikenang.
Mengakhiri ziarahnya, SBY mengingatkan bahwa Purworejo adalah “kota pejuang,” tanah kelahiran tokoh-tokoh besar seperti Jenderal Ahmad Yani, Jenderal Urip Sumoharjo, dan WR Supratman. (Jon)





